PENGUKURAN SUHU DAN KELEMBABAN UDARA DI BERBAGAI VEGETASI

Laporan Agroklimatologi

 

“PENGUKURAN SUHU DAN

KELEMBABAN UDARA DI BERBAGAI VEGETASI”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Disusun oleh :

Nama         : Hariono Sianturi

Nim  : D1B011016

Kelas          : Agribisnis D

 

 

 

Agribisnis

Fakultas Pertanian

Universitas Jambi

2012

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1  Tinjauan Pustaka

Suhu adalah derajat panas atau dingin yang diukur berdasarkan skala tertentu dengan menggunakan thermometer. Satuan suhu yang biasa digunakan adalah derajat Celcius (oC), sedangkan di Inggris dan beberapa Negara lainnya dinyatakan dalam derajat Fahrenheit (oF). oC = 5/9 (oF-32o) dan oF = 9/5(oC) + 320.

Faktor-faktor yang mempengaruhi suhu di permukaan bumi antara lain:
1. Jumlah radiasi yang diterima per tahun, per hari, dan per musim.
2. pengaruh daratan atau lautan.
3. pengaruh ketinggian tempat
4. pengaruh angin secara tidak langsung
5. pengaruh panas laten
6. penutup tanah
7. tipe tanah
8. pengaruh sudut datang sinar matahari.

Pengaruh suhu terhadap makhluk hidup sangat besar sehingga pertumbuhannya sangat bergantung padanya, terutama dalam kegiataanya. Contoh, tanaman memerlukan suhu tertentu, artinya tanaman itu tidak akan tumbuh dengan baik bila syarat-syaratnya tidak dipenuhi. Pengaruhnya pada proses pematangan buah adalah makin tinggi suhu makin cepat matang. Dengan suhu yang tinggi, benih akan melakukan metabolisme lebih cepat. Benih yang dibiarkan atau ditanam pada dataran atau tanah tinggi maka daya kecambahnya akan turun. Jadi, pada tanaman juga ada suhu maksimum dan suhu optimum yang diperlukannya. Suhu maksimum adalah suhu tertinggi dimana suatu tanaman masih dapat tumbuh. Suhu minimum adalah suhu terendah dimana tanaman masih dapat hidup, sedangkan suhu optimum adalah suhu yang terbaik yang dibutuhkan tanaman dimana proses pertumbuhannya dapat berjalan lancar (Kartasapoetra, 2004).
Suhu mempunyai arti yang vital, karena suhu menentukan kecepatan reaksi- reaksi dan kegiatan-kegiatan kimiawi yang mencakup kehidupan. Mintakat besar vegetasi dunia, seperti mintakat-mintakat menurut ketinggian, terutama bergantung pada suhu dan untuk mudahnya kita membedakan tumbuhan yang megaterm (tumbuhan yang menyukai habitat yang panas), mikroterm (tumbuhan yang menyukai habitat yang dingin), dan mesoterm (tumbuhan yang menyukai habitat diantara kedua habitat tersebut). Tumbuhan yang berbeda teradaptasi secara berbeda-beda terhadap keadaan suhu yang menyangkut minimum, optimum, dan maksimum untuk hidupnya secara keseluruhan demikian pula untuk komponen-komponen fungsi fisiologinya, kendati suhu sebenarnya dapat berubah dengan variasi pada kondisi yang berbeda dan menurut keadaan tumbuhan(dan tentu saja juga berbeda-beda pada tumbuhan yang berlainan) ( Daldjoeni, 1986).

 

Suhu udara di daerah tropic terutama dikendalikan oleh penyinaran. Perbedaan-perbedaan suhu antara massa udara biasanya kurang penting. Ini mempunyai dua akibat. Pertama, perubahan-perubahan suhu harian lebih besar daripada perubahan-perubahan suhu tahunan. Memang, daerah tropic didefenisikan secara klimatologi sebagai suatu daerah dimana variasi suhu hariannya melebihi variasi suhu tahunan. Kedua, suhu seperti penyinaran matahari, cenderung relative seragam untuk daerah-daerah luas. Tinggi tempat merupakan factor utama yang mengubah keseragaman panas ini. Suhu rata-rata berkurang dengan pertambahan tinggi dengan laju rata-rata kira-kira 0,6oC/ 100 meter. Suhu yang dibicarakan sampai saat ini adalah yang diukur dengan kasa meteorology baku, biasanya pada ketinggian 1,22 meter. Walaupun demikian, suhu berubah secara cepat dibawah ketinggian ini karena pertukaran energi yang besar yang terjadi pada permukaan tanaman atau tanah. Oleh karena itu, untuk mendapatkan uraian lingkungan yang memadai, kita harus memperhatikan suhu udara (Tohari, 1999).
Fungsi tanaman yang normal tergantung dari pengendali reaksi biokimia yang baik, dan salah satu pengendali yang penting ialah suhu. Tiap jenis tanaman maupun populasinya harus menyesuaikan diri dengan suhu di lingkungannya. Dalam suatu luasan geografis akan terdapat tahun-tahun, yang mempunyai kenaikan atau penurunan suhu di luar batas normal yang mempengaruhi pertumbuhan dan menimbulkan fungsi-fungsi tanaman yang jelek (Guslim, 2007). Kelembaban adalah banyaknya kadar uap air yang ada di udara.

Dalam kelembaban dikenal beberapa istilah, seperti:
1.   Kelembaban mutlak, yaitu massa uap air yang berada dalam satu satuan udara, yang dinyatakan

 dalam gram/m3.
2.   Kelembaban spesifik, yaitu perbandingan massa uap air di udara dengan satuan massa udara,

 yang dinyatakan dalam gram/kilogram.
3.   Kelembaban relative, yaitu perbandingan jumlah uap air di udara dengan jumlah maksimum uap

air yang dikandung udara pada temperature tertentu, yang dinyatakan dalam %.

Angka kelembaban relative dari nol sampai dengan 100%, dimana 0 % artinya udara kering, sedangkan 100% artinya udara jenuh dengan uap air dimana akan terjadi titik-titik air. Keadaan kelembaban diatas permukaan bumi berbeda-beda. Pada umumnya, kelembaban yang tertinggi ada di khatulistiwa sedangkan yang terendah pada lintang 40o. Daerah rendah ini disebut horse latitude, curah hujannya kecil. Besarnya kelembaban suatu daerah merupakan faktor yang dapat menstimulasi curah hujan. Di Indonesia, kelembaban udara tertinggi dicapai pada musim hujan dan terendah pada musim kemarau. Besarnya kelembaban di suatu tempat pada suatu musim, erat hubungannya dengan perkembangan organisme (Marsono, 1995).
Kelembaban atmosfer dapat dinyatakan dalam kuantitas-kuantitas mutlak atau relative untuk maksud-maksud tertentu, atau dengan menggunakan sifat-sifat atmosfer yang berkaitan yang diperoleh oleh penutupan hutan. Neraca kelembaban atmosfer merupakan suatu bagian integral dari prosedur peneracaan komprehensif yang berskala besar, neraca tersebut menekankan pada pentingnya daya angkat massa udara (advection) dalam menentukan ketersediaan kawasan kelembaban bagi presipitasi dan aliran sungai. Kondensasi uap menjadi bentuk-bentuk cair dan padat merupakan suatu fenomena fisis yang berlangsung di biosfer, namun sebagian yang lebih besar terjadi pada massa udara atmosfer bagian atas dimana sebagian besar proses presipitasi dimulai (Subagyo, 1990).

 

1.2  Tujuan

untuk menentukan suhu dan kelembaban udara di berbagai vegetasi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

METODOLOGI

 

2.1 Waktu dan tempat

 

Praktikum agroklimatologi ini dilaksanakan pada tanggal 29 November 2012 dilaboratorium agroklimatologi pada pukul 10.00-12.00

2.2Alat dan Bahan

 

Alat dan bahan yang digunakan Termometer (2buah), tali nilon/Rafia, kayu (1,5m), Payung,

kapas, Air, parang/cangkul, dan stopwatch/penghitung waktu.

 

2.3 Cara Kerja

  1. Siapkan alat dan bahan
  2. Buat kayu penyangga berbentuk tanda tambah dan ikatkan payung di atas kayu tersebut sebagai pelindung
  3. Kemudian ikatkan termometer diujung-ujung dari kayu
  4. Kapas diikatkan pada salah satu termometer dan diberi air sementara yang satunya tidak diberi apa-apa
  5. Lakukan pengamatan selama 3×10 menit pada vegetasi yang berbeda (Kebun Percobaan dan Hutan)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

Hasil dan Pembahasan

 

3.1 Hasil

Termometer

Tempat

10 menit I

RH

10 menit II

RH

10 menit III

RH

Rata-Rata

RH

Kebun Percobaan

Bola Basah: 310C

86%

Bola Basah: 300C

86%

Bola Basah: 290C

86%

86%

Bola Kering: 330C

Bola Kering: 320C

Bola Kering: 310C

Hutan

Bola Basah: 280C

92%

Bola Basah: 270C

92%

Bola Basah: 270C

92%

92%

Bola Kering: 290C

Bola Kering: 280C

Bola Kering: 280C

 

3.2 Pembahasan

Dari hasil pengukuran suhu dan kelembapan udara pada berbagai tempat didapat rata-rata kelembaban udara di atas 80%.Hal ini sesuai dengan literatur dari Housenbuiller (2000) yang menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi suhu juga sangat erat dengan faktor-faktor yang mempengaruhi kelembapan udara dalam berbagai hubungan yaitu :

1. Pengaruh tanah dan air, semakin banyak jumlah uap air baik diudara maupun didalam tanah, maka

     kelembapan akan semakin tinggi.
2. Ada atau tidaknya vegetasi, semakin rapatnya jarak antara vegetasi maka kelembaban makin

     tinggi,namun suhu akan menjadi sangat rendah.
3. Pengaruh ketinggian tempat, semakin tingginya suatu tempat maka suhu ditempat tersebut akan

     semakin rendah dan kelembapan udara semakin tinggi.
4. Pengaruh aktivitas manusia dipersemaian terbuka.

Dari hasil percobaan yang dilakukan pada kebun percobaan dan hutan, dapat kita lihat bahwa suhu mengalami penurunan pada  pengukuran menit ke 20 dan 30, dibandingkan dengan pengukuran pada 10 menit awal. Artinya suhu mengalami penurun dan sebaliknya kelembaban akan meningkat. Hal ini dikarenakan pada saat melakukan pengukuran banyaknya sinar matahari yang dating sehingga mengalami perubahan yang diikuti oleh penurunan suhu pula. Hal ini sesuai pernyataan Guslim (2007) yang menyatakan bahwa suhu berbanding terbalik dengan kelembaban. Jika suhu tinggi maka kelembaban akan rendah, begitu pula sebaliknya.

 

 

BAB IV

Kesimpulan

  1. Perbandingan suhu yang menggunakan thermometer dikebun percobaan dan Hutan yaitu, 320C: 28,30C.
  2. Perbandingan kelembapan udara dikebun percobaan dan Hutan yaitu 86% : 92%
  3. Tumbuhan mampu menyerap cahaya matahari selain untuk melakukan proses fotosintesis, juga dapat mengakibatkan suhu disekitarnya berkurang atau menjadi stabil.
  4.  Kelembapan didaerah yang tumbuh-tumbuhannya banyak lebih tinggi dibandingkan dengan daerah kering.

http://alammemanggilkita.blogspot.com/2010/06/laporan-ahir-praktikum-klimatologi.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s