Laporan Praktikum Dasar-Dasar Agronomi “Kacang Tanah”

Laporan Praktikum Dasar-Dasar Agronomi
“PENGARUH JARAK LUBANG TANAM DAN APLIKASI PUPUK KOMPOS TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL KACANG TANAH”
(Arachis hypogeal L)

Logo Unja 3D

DOSEN PEMBIMBING
Ir. Ahmad Ridwan, M.Si

DISUSUN OLEH:
KELOMPOK III

1. Hariono.S D1B011016
2. Rian Heryanto D1B011017
3. Resti Desperina Putri D1B011018
4. Siti Hapsah D1B011019
5. Rini Ariani D1B011020
6. Tri Arianto D1B011021

AGRIBISNIS
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSTAS JAMBI
2013
I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Kacang tanah adalah suatu komoditi penting diantara tanaman kacang-kacang lain. Karena dapat dipergunakan untuk menambah pendapatan petani dan memenuhi kebutuhan petani dan memenuhi kebutuhan industri.
Produktivitas kacang tanah pada saat ini termasuk rendah. Salah satu solusi untuk meningkatkan produktivitas hasil adalah dengan perbaikan teknik budidaya tanaman. Usaha ekstensiifikasi akan sia – sia jika tidak didukung dengan intensifikasi dalam memproduksi kacang tanah.
Banyak cara yang ditempuh untuk peningkatan hasil kacang tanah, diantaranya penataan dan pengolahan lahan berdayaguna, pengaturan pola dan jarak tanam, pemupukan, pemilihan benih atau varietas dan juga jumlah benih yang digunakan.
Pupuk sebagai salah satu sarana produksi dalam usaha produksi dalam usaha bercocok tanam dalam aplikasinya perlu mendapat perhatian serius agar memberi hasil maksimum. Penggunaan pupuk perlu memperhatikan dosis, cara penggunaan, waktu pemberian dan jenis pupuk yg di berikan.
Sebagai tanaman budidaya, kacang tanah terunama dipanen bijinya yang kaya protein dan lemak. Biji ini dapat dimakan mentah, direbus, digoreng atau disangrai. Di Amerika Serikat, biji kacang tanah diproses menjadi selai dan merupakan industri pangan yang menguntungkan. Produksi minyak kacang tanah mencapai sekitar 10% pasaran minyak masak dunia pada tahun 2003 menurut FAO. Selain dipanen biji atau polongnya, kacang tanah juga dipanen hijauannya ( daun dan batang ) untuk makanan ternak atau merupakan pupuk hijau.
Kacang tanah merupakan tanaman pangan yang mendapat prioritas kedua untuk dikembangkan dan ditingkatkan produksinya setelah padi. Hal ini didorong dengan semakin meningkatnya kebutuhan akan pangan, bahan baku industri dan pakan ternak. Tanaman kacang tanah bisa dimanfaatkan untuk makanan ternak, sedangkan bijinya dimanfaatkan sebagai sumber protein nabati, minyak, dan lain lain.
Kacang tanah kaya dengan lemak, mengandung protein yang tinggi, zat besi, vitamin E dan kalsium, vitamin B kompleks dan Fosforus, vitamin A dan K, lesitin, kolin dan kalsium. Kandungan protein dalam kacang tanah adalah jauh lebih tinggi dari daging, telur dan kacang soya. Mempunyai rasa yang manis dan banyak digunakan membuat beraneka jenis kue.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan judul laporan ini dapat dirumuskan masalah:
a. Pengaruh jarak lubang tanam terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman
b. Pengaruh pupuk kompos terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman

1.3. Tujuan Percobaan
Adapun tujuan percobaan ini adalah mengetahui Pengaruh jarak tanaman dan pengaruh pupuk kompos terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman.

II. TINJAUAN PUSTAKA
Pupuk yang digunakan dalam budidaya tanaman banyak jenisnya, Radjaguk (1999) menyatakan secara umum pupuk terbagi ke dalam dua bagian utama yaitu pupuk organik (alami) dan pupuk buatan.
Maas (1996) menyatakan disamping pupuk an-organik, peranan pupuk organik tidak dapat diabaikan. Contoh pupuk organik yang sangat potensial adalah kompos, kotoran hewan seperti sapi lembu, ayam, kuda, merpati dan juga kotoran-kotoran burung (guano).
Penggunaan benih bermutu merupakan syarat utama dalam pengembangan setiap komoditi yang diusahakan (kamil, 1985). Dari segi benih, jumlah benih per lubang juga harus diperhatikan dalam budidaya tanaman kacang tanah. Jumlah benih yang terlalu berlebihan per lubang tidak akan memberikan hasil optimal.
Daerah pertanian kacang tanah di indonesia sebagian besar terdapat di pulau Jawa. Oldeman dan Frere (1982) menyatakan bahwa pada tahun 1977 hasil produksi tanaman kacang tanah di Jawa Barat mencapai rata-rata 0.80 ton/Ha, di Jawa timur 0.78 ton/Ha sedangkan di Sumatera utara hanya 0.10 ton/Ha. Pada tahun 1978 di jawa Barat dan Jawa Timur terjadi kenaikan produksi tanaman kacang tanah, yaitu masing-masing mempunyai rata-rata 0.90 to/Ha dan 0.80 ton/Ha perhektar.
Umur tanaman kacang tanah tipe tegak berkisar antara 100 hari – 120 hari, sedangkan yang bertipe menjalar berkisar antara 5 bulan sampai 6 bulan. Tanaman kacang tanah dapat tumbuh di daratan rendah sampai ketinggian rata-rata 500 meter di atas permukaan laut (dpl). Pada tempat – tempat yang lebih tinggi dari 500 meter dpl laju pertumbuhannya akan lamban dan hasil kandungan lemaknya menjadi berkurang ( Rismunandar, 1982 )
Supaya pertumbuhan dan perkembangan tanaman kacang tanah optimum serta produksinya tinggi diperlukan struktur tanah yang gembur dan subur sehingga air mudah meresap. Wolfe dan Kipps (1959) berpendapat bahwa tanah yang sesuai dengan pertumbuhan kacang tanah adalah tanah yang berpasir dan diberi perlakuan pengapuran. Pengapuran dimaksudkan untuk menghindari kondisi tanah terlalu asam. Derajat keasaman tanah yang optimum adalah pH 6.0 – ph 6.5 .
Pupuk kandang sebenarnya adalah campuran tanah dengan produk buangan dari kotoran binatang ataupun pelapukan dari tumbuhan yang mati. Sehingga pupuk kandang dapat didefinisikan sebagai semua produk buangan dari binatang peliharaan yang dapat digunakan untuk menambah hara, memperbaiki sifat fisik, dan biologi tanah. Apabila dalam memelihara ternak tersebut diberi alas seperti sekam pada ayam, jerami pada sapi, kerbau dan kuda, maka alas tersebut akan dicampur menjadi satu kesatuan dan disebut sebagai pukan pula. Beberapa petani di beberapa daerah memisahkan antara pukan padat dan cair.
a. Pupuk kandang padat
Pupuk kandang (pukan) padat yaitu kotoran ternak yang berupa padatan baik belum dikomposkan maupun sudah dikomposkan sebagai sumber hara terutama N bagi tanaman dan dapat memperbaiki sifat kimia, biologi, dan fisik tanah. Penanganan pukan padat akan sangat berbeda dengan pukan cair. Penanganan pukan padat oleh petani umumnya adalah sebagai berikut: kotoran ternak besar dikumpulkan 1-3 hari sekali pada saat pembersihan kandang dan dikumpulkan dengan cara ditumpuk di suatu tempat tertentu. Petani yang telah maju ada yang memberikan mikroba dekomposer dengan tujuan untuk mengurangi bau dan mempercepat pematangan, tetapi banyak pula yang hanya sekedar ditumpuk dan dibiarkan sampai pada waktunya digunakan ke lahan.
b. Pupuk kandang cair
Pupuk kandang (pukan) cair merupakan pukan berbentuk cair berasal dari kotoran hewan yang masih segar yang bercampur dengan urine hewan atau kotoran hewan yang dilarutkan dalam air dalam perbandingan tertentu. Umumnya urine hewan cukup banyak dan yang telah dimanfaatkan oleh petani adalah urine sapi, kerbau, kuda, babi, dan kambing. Pupuk kandang cair dibuat dari kotoran ternak yang masih segar, bisa dari kotoran kambing, domba, sapi, dan ayam. Petani pertanian organik di Kenya membuat pukan cair dari 30-50 kg kotoran hewan yang masih segar dimasukkan dalam karung goni yang terbuat dari serat kasar rami diikat kuat, ujung karung diikatkan pada sebuah tongkat sepanjang 1 m untuk menggantung karung pada drum, kemudian karung tersebut direndam dalam drum berukuran 200 l yang berisi air. Secara, berkala 3 hari sekali kotoran dalam karung diaduk dengan mengangkat dan menurunkan tongkat beserta karung. Untuk melarutkan pukan dibutuhkan waktu sekitar minggu. Pupuk kandang (pukan) yang melarut siap digunakan bila air sudah berwarna coklat gelap dan tidak berbau. Cara penggunaan pukan cair dengan disiramkan ke tanah bagian perakaran tanaman dengan takaran satu bagian pukan cair dicampur dengan satu atau dua bagian air. Ampas dari pukan cair dimanfaatkan sebagai mulsa (Matarirano, 1994).
III. BAHAN DAN METODE PERCOBAAN

A. Alat dan bahan

Alat :
– cangkul
– gembor
– tali rafia
– alat penyemprot
– timbangan
– papan nama
– alat tulis.

Bahan :
– benih kacang tanah
– urea
– TSP
– KCl

B. Pelaksanaan percobaan

1. Tanah diolah pada lapisan top soil, bersihkan rumput dan kotoran lainnya dari areal pertanaman. Bedengan dibuat dengan ukuran panjang 2,5 m x lebar 2 m dan jarak antar bedengan 0,5 m sekaligus sebagai saluran drainase ( dibuat dua bedengan ).
2. Pupuk diberikan dengan cara larikan ( dalam alur ) untuk pupuk buatan dan disebar untuk pupuk kandang.
Adapun perlakuan pupuk atau aplikasi pupuk sebagai berikut:
– P1 = tanpa diberikan pupuk kandang namun diberi pupuk SP-36 (10 gr/1 m2), KCl (5 gr/ 1 m2), dan Za (10 gr/1 m2) (pada saat tanam)
– P2 = pemberian pupuk kandang 40kg/2,5 m x 2 m dan diberi pupuk SP-36 (10 gr/1 m2), KCl (5 gr/ 1 m2), dan Za (10 gr/1 m2) (pada saat tanam)

Bedeng pertama perlakuan tanpa pupuk kandang yaitu P1 dan bedeng kedua dengan perlakuan pupuk kandang yaitu P2. Sehingga dapat disusun pada bedeng percobaan sbb :

Kelompok I Kelompok II Kelompok III Kelompok IV Kelompok V Kelompok VI

3. Dibuat jarak antar tanaman 25 cm x 10 cm sehingga jumlah populasi yang ada sekitar 200 bibit yang dapat ditanami.
4. Penyulaman.
Seminggu setelah tanam dihitung tanaman yg muncul sesuai perlakuan, tanaman yang tidak tumbuh disulam ( disusul tanam )
5. Penyiangan dan pembumbunan
Setiap minggu pada umur lebih dari satu bulan, pada saat penyiangan dilakukan terus pembumbunan.
6. Setelah tanaman tumbuh, selanjutnya dipilih enam sampel yang akan diuji pada setiap bedengnya.
7. Setiap minggu dilakukan pengamatan terhadap tanaman kacang setelah bibit ditanam mulai dari jumlah batang primer, tinggi batang dan kapan waktu berbunga. Selama proses berbunga tanaman sebaiknya jangan disiram karena akan mengganggu proses penyerbukan.

8. Panen
Pemanenan dilakukan pada saat tanaman berumur 100-120 hari dengan ciri daun telah menguning dan sebagian mulai berguguran, batang mulai kering dan polong keras dan telah berisi penuh. Pisahkan sampel dari keseluruhan populasi untuk diteliti.
9. Pada saat pemanenan, dihitung jumlah polong bernas, polong kosong dan ditimbang bobot masing – masing polong dari tanaman contoh

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Data hasil pengamatan

a. Tabel Pengamatan Pra Panen

Tabel 1. Tinggi Tanaman (cm)
( minggu ke 2 :9 Nov‘12 setelah tanam )
Bedengan T1 T2 T3 T4 T5 T6 Jlh Rata-Rata
P1 (I) 17,5 18 16,5 14 15 14,5 95,5 15,9
P2 (II) 13,5 15,8 15 17,4 13 17 91,7 15,3

Tabel 1.1 Jumlah Batang primer
(minggu ke 2 :9 Nov‘12 setelah tanam)
Bedengan T1 T2 T3 T4 T5 T6 Jlh Rata-Rata
P1 (I) 4 3 4 5 4 3 23 3,8
P2 (II) 3 4 3 5 3 3 21 3,5

Tabel 2. Tinggi Tanaman (cm)
( minggu ke 3 :16 Nov’12 setelah tanam )
Bedengan T1 T2 T3 T4 T5 T6 Jlh Rata-Rata
P1 (I) 28,5 25,5 26 19,2 21,6 21,4 142,2 23,7
P2 (II) 20,5 24,5 28 22,8 24 19,6 139,4 23,2

Tabel 2.1 Jumlah batang primer
( minggu ke 3 :16 Nov’12 setelah tanam )
(waktu berbunga)
Bedengan T1 T2 T3 T4 T5 T6 Jlh Rata-Rata
P1 (I) 7 7 8 8 6 7 43 7,2
P2 (II) 6 7 7 6 7 7 40 6,7

Tabel 3. Tinggi Tanaman (cm)
(minggu ke 4 :23 Nov’12 setelah tanam )
Bedengan T1 T2 T3 T4 T5 T6 Jlh Rata-Rata
P1 (I) 36,6 40,5 41 34 38 36,5 226,6 37,8
P2 (II) 36 42 39,5 33,5 41 30,5 222,5 37,1

Tabel 3.1 Jumlah batang primer
(minggu ke 4 :23 Nov’12 setelah tanam )
Bedengan T1 T2 T3 T4 T5 T6 Jlh Rata-Rata
P1 (I) 10 10 10 10 9 10 59 9,8
P2 (II) 9 10 10 8 9 10 56 9,3

Tabel 4. Tinggi tanaman (cm)
(minggu ke 5 : 7 Des’12 setelah tanam)
Bedengan T1 T2 T3 T4 T5 T6 Jlh Rata-Rata
P1 (I) 45 51 55 43 40,7 46 280,7 46,8
P2 (II) 46,1 46,7 34,4 47,4 49,6 43,5 267,7 44,6

Tabel 4.1 Jumlah batang Primer
(Minggu ke 5 :7 Des’12 setelah tanam)
Bedengan T1 T2 T3 T4 T5 T6 Jlh Rata-Rata
P1 (I) 10 9 10 10 10 10 59 9,8
P2 (II) 10 10 9 9 10 10 58 9,7

Tabel 5. Tinggi tanaman (cm)
(minggu ke 6 : 14 Des’12 setelah tanam)
Bedengan T1 T2 T3 T4 T5 T6 Jlh Rata-Rata
P1 (I) 60 62 58,5 54,3 61 57,5 353,3 58,9
P2 (II) 52,5 51 50 68 60 56,5 338 56,3

Tabel 5.1 Jumlah batang primer
(minggu ke 6 : 14 Des’12 setelah tanam)
Bedengan T1 T2 T3 T4 T5 T6 Jlh Rata-Rata
P1 (I) 10 10 10 9 10 10 59 9,8
P2 (II) 9 10 10 11 9 10 59 9,8

Tabel 6 Tinggi tanaman (cm)
(minggu ke 7 : 21 Des’12 setelah tanam)
Bedengan T1 T2 T3 T4 T5 T6 Jlh Rata-Rata
P1 (I) 66 63,5 74 78,1 65,6 78,7 425,9 71
P2 (II) 56 76 53,8 68,4 62,3 61,9 378,4 63,1

Tabel 6.1 Jumlah batang primer
(minggu ke 7 : 21 Des’12 setelah tanam)
Bedengan T1 T2 T3 T4 T5 T6 Jlh Rata-Rata
P1 (I) 10 10 10 9 10 10 59 9,8
P2 (II) 9 10 10 11 9 10 59 9,8

Tabel 7 Tinggi tanaman (cm)
(minggu ke 8 : 28 Des’12 setelah tanam)
Bedengan T1 T2 T3 T4 T5 T6 Jlh Rata-Rata
P1 (I) 67 65,5 75 79 67,5 79 433 72,1
P2 (II) 60 77 55,3 69,2 64,6 62,7 388,8 64,8

Tabel 7.1 Jumlah batang primer
(minggu ke 8 : 28 Des’12 setelah tanam)
Bedengan T1 T2 T3 T4 T5 T6 Jlh Rata-Rata
P1 (I) 10 10 10 9 10 10 59 9,8
P2 (II) 9 10 10 11 9 10 59 9,8

b. Pengamatan Saat Panen ( Kacang Tanah ) (4 Januari 2013)

Tabel 8. Jumlah Polong
Bedengan T1 T2 T3 T4 T5 T6 Jlh Rata-Rata
P1 (I) 21 33 18 16 16 17 121 20,2
P2 (II) 44 55 25 54 40 56 274 45,7

Tabel 9. Berat sampel dengan kulit (gr)
Bedengan T1 T2 T3 T4 T5 T6 Jlh Rata-Rata
P1 (I) 23,8 37,7 20 28,5 14,2 20,7 144,9 24,1
P2 (II) 87,2 88,8 59,3 85,6 48,1 71,6 440,6 73,4

Tabel 10. Berat sampel tanpa kulit (gr)
Bedengan T1 T2 T3 T4 T5 T6 Jlh Rata-Rata
P1 (I) 10,9 13 5,7 14,4 7,1 6,7 57,8 9,6
P2 (II) 30,4 31,3 15,3 30,6 20,1 29 156,7 26,1

Bedengan Jumlah biji
Pupuk kompos 359/
100 gr
Tanpa pupuk kompos 207/ 57,8 gr
Tabel 11. Jumlah biji

B. Pembahasan
Pemupukan tanah dengan pupuk kandang dapat mengakibatkan tanah menjadi baik dengan daya mengikat airnya menjadi lebih tinggi. Pupuk kandang juga berpengaruh terhadap keadaan fisik, kimia dan biologis tanah. Menurut Buckman dan Brady (1982), mengatakan bahwa pupuk kandang merupakan lapisan yang berada di permukaan tanah mempunyai sifat yang dapat mengikat air permukaan empat sampai enam kali beratnya sendiri dan air merupakan kebutuhan yang paling penting untuk melarutkan unsur hara di dalam tanah dan dimanfaatkan oleh tanaman.
Fungsi pupuk kandang antara lain mampu mengembangkan beberapa unsur hara seperti fosfor, nitrogen, sulfur, kation dan dapat melepaskan unsur P dari oksidasi Fe tanah dan dapat membentuk senyawa kompleks dengan unsur makro dan mikro sehingga tanaman dapat mengurangi proses pencucian dari unsur yang dikandungnya (Suwardjono, 2003).
Selain itu peranan penting dari pupuk kandang terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman adalah sebagai berikut :
a) Pupuk kandang mengandung zat seperti N(0,97), P(0,69), K(1,66) .
b) Mampu melonggarkan susunan tanah terutama jenis tanah liat sehingga udara mudah menembus kedalam, dengan kata lain dapat memperbaiki aerase tanah.
c) Meningkatkan daya serap tanah terhadap air, sehingga ketersediaanair yang dibutuhkan tanaman memadai..
d) Mendorong kehidupan dan perkembangan jasad renik tanah yang berguna untuk mengubah zat – zat makanan di dalam tanah.
Jarak tanaman juga berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman kacang tanah. Dimana pengaruhnya akan meningkatkan tinggi tanaman dan jumlah cabang per tanaman namun tidak berpengaruh secara nyata meningkatkan bobot polong per tanaman.
Pada minggu pertama juga dilakukan penebaran pupuk kompos yang disebar secara merata pada bedeng P2. Pada minggu kedua tidak terlihat perbedaan yang begitu nyata. Pengamatan potensi tumbuh ini, juga diamati pada lubang tanam mana yang belum tumbuh, sehingga disulam kembali lubang tanam dan diisi benih sesuai kebutuhan per lubang. Namun, tidak jarang pada tanaman kacang tanah ini masih ada alur yang lubang tanamnya tidak tumbuh sama sekali ( terjadi pada bedeng P2 ). Hal ini bisa dikarenakan pada saat penanaman benih ditancapkan terlalu dalam sehingga pada saat tumbuh tidak dapat muncul dipermukaan dan pupuk kompos yang digunakan masih terlalu panas sehingga tidak cocok untuk pertumbuhan kacang tanah. Pada fase minggu – minggu berikutnya, perbedaan ini mulai terlihat pada bentuk fisiologis kacang tanah yang memiliki perbedaan pada tinggi tanaman dan jumlah batang primer . Pada minggu ketiga setelah tanam, perbandingan tinggi tanaman pada setiap bedeng belum menunjukkan perbedaan rata-rata tinggi tanaman yang terlalu besar perbandingannya. Rata-rata tinggi tanaman pada bedeng P1 adalah 23,7 dan P2 adalah 23,2. Namun tinggi tanaman pada dua bedeng ini tidak selalu menunjukkan bahwa tinggi tanaman pada bedeng P1 memiliki tinggi yang lebih dominan dari minggu tanam ke-4, ke-5, dan ke-6 dan selanjutnya.
Pengaruh dari aplikasi pupuk terhadap pertumbuhan kacang tanah pada pengamatan ketika panen juga mulai memperlihatkan perbedaan yang berhubungan dengan jumlah polong yang diberi pupuk kompos dan tidak diberi pupuk kompos.
Saat perlakuan panen kacang, dilihat perbedaan jumlah berat dari bedeng tersebut. Dari data yang telah diperoleh, perlakuan P2 untuk jumlah polong lebih besar ( 274 polong / 6 sampel) dari perlakuan P1 (121 polong / 6 sampel). Berat sampel dengan kulit terlihat juga perbedaan yang besar yaitu 440,6 gr (P2) dan 144,9 gr (P1). Berat biji tanpa kulit pun menunjukkan perbedaan yang besar yaitu 156,7 (P2) dan 57,8 gr (P1).
Pada praktikum yang kami lakukan, kami mendapatkan masalah Dimana lahan yang kami tanami terpaksa harus di panen lebih awal karena area lahan kacang tanah rusak di ganggu oleh hama (babi atau monyet) yang menyebabkan hasil yang kami dapat tidak sesuai dengan yang kami harapkan.

V. PENUTUP

A.Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari percobaan yang telah dilakukan yaitu:
1. Perlakuan kacang pada P2 memiliki jumlah polong yang lebih banyak dari pada perlakuan kacang P1.
2. Pengaruh dari penggunaan pupuk terhadap perlakuan P1 dan perlakuan P2 ini tampak pada hasil akhir (pada saat panen) yaitu menunjukkan perbedaan dalam berat polong .
3. Tinggi tanaman pada perlakuan P1 dan perlakuan P2 tidak terlalu menunjukkan perbedaan yang terlalu signifikan pada minggu 1, 2 dan 3 namun pada minggu selanjutnya menunjukkan perbedaan dimana tanaman P1 lebih tinggi dari P2
4. Berat sampel tanpa kulit menunjukkan perbedaan yang besar dimana seluruh sampel P1 lebih kecil (57,8 gr) dari seluruh sampel P2 (156,7 gr) dan berat biji dengan kulit seluruh sampel P1 lebih kecil juga (144,9 gr) dari berat biji dengan kulit sampel P2 (440,6 gr)
5. Jumlah biji yang memakai pupuk kompos per 100 gram adalah 359 biji sedangkan jumlah biji yang tanpa memakai pupuk kompos 207/ 57,8 gr

LAMPIRAN GAMBAR

DAFTAR PUSTAKA
http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/15433/A04AHA.pdf?sequence=1 diakses pada tanggal 12 Januari 2013 pada pukul 09.45

About onoe21

Tidak ada kata tidak bisa, tidak mau dan tidak mampu selagi orang tersebut masih hidup
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s