Dasar-dasar Agronomi “Tanaman dan Faktor Lingkungan”

DASAR – DASAR AGRONOMI
TANAMAN DAN FAKTOR LINGKUNGAN

OLEH : KELOMPOK III
HARIONO S. D1B011016
LANTIKA MANIK D1B011037
SUMINI D1B011010
DOSEN PENGAMPU : Dr. Ir. Ahmad Riduan, M.Si.

AGRIBISNIS
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS JAMBI
2012

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Dalam usaha budidaya harus diketahui faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman secara ekologi yang dalamnya terdapat faktor biotik dan abiotik serta faktor pengelolaan yang dilakukan oleh manusia. Kondisi tanah dan iklim termasuk ke dalam faktor abiotik sedangkan organisme lain baik yang sejenis (antar individu tanaman dalam suatu populasi) maupun yang berlainan jenis, misalnya : jenis tanaman lain dalam sistem tumpang sari, hama, penyakit dan gulma termasuk pada faktor biotik.
Dalam ekosistem, tumbuhan berperan sebagai produsen, hewan berperan sebagai konsumen, dan mikroorganisme berperan sebagai dekomposer. Tanaman dalam kondisi alamiah maupun dibudidayakan dengan pertanian seringkali mengalami stres akibat kondisi lingkungan (environmental stresses). Stres biasanya didefinisikan sebagai faktor luar yang tidak menguntungkan yang berpengaruh terhadap tanaman.
Pertumbuhan tanaman dapat dipengaruhi dalam berbagai cara oleh lingkungan. Kondisi lingkungan yang sesuai selama pertumbuhan akan merangsang tanaman untuk berbunga dan menghasilkan benih. Kebanyakan speises tidak akan memasuki masa reproduktif jika pertumbuhan vegetatifnya belum selesai dan belum mencapai tahapan yang matang untuk berbunga. Pertumbuhan suatu tanaman yang diproduksi akan selalu dipengaruhi oleh faktor dalam maupun faktor luar dari tanaman itu sendiri. Faktor dalam dari taman itu adalah genetika dari tanaman tersebut yang terekspresikan melalui pertumbuhan sehingga diperoleh hasil, sedangkan faktor luarnya adalah faktor biotik maupun abiotik yang meliputi unsur – unsur yang menjadi pengaruh pada kualitas dan kuantitas produksi alam, antara lain iklim, curah hujan, kelembaban, intensitas cahaya, kesuburan tanah, serta ada tidaknya hama dan penyakit. Oleh sebab itu, mengetahui faktor yang berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman tentunya menjadi sangat bermanfaat. Untuk dapat memanfaatkan unsur – unsur tersebut secara optimal maka perlu adanya perlakuan khusus pada tanaman tersebut, antara lain pengolahan tanah, pemilihan bibit atau varietas unggul, pengaturan kebutuhan benih pada petak, pengaturan jarak tanam, pengaturan pemupukan, pengaturan air irigasi, pengendalian hama dan penyakit, hingga akhirnya diperoleh hasil panen atau produksi pertanian.

1.2 Rumusan masalah
 Apa itu tanaman ?
 Apa saja faktor biotik dan abiotik yang mempengaruhi tanaman ?
 Bagaimana faktor biotik dan abiotik mempengaruhi tanaman ?
1.3 Tujuan
 Untuk mengetahui apa pengertian dari tanaman;
 Untuk mengetahui bagaimana faktor biotic itu mempengaruhi tanaman;
 Untuk mengetahui apa saja komponen dari faktor biotic tersebut;
 Untuk mengetahui bagaimana faktor abiotik itu mempengaruhi tanaman;
 Untuk mengetahui apa saja komponen dari faktor abiotik tersebut.

BAB II
PEMBAHASAN
Tanaman adalah
Faktor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman dibedakan menjadi dua, yaitu faktor abiotik dan biotik:
1. FAKTOR ABIOTIK
Faktor abiotik, yaitu terdiri dari benda-benda mati seperti air, tanah, suhu, cahaya, matahari dan sebagainya. Faktor abiotik yang berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman antara lain:
 Tanah
Terdapat 3 fungsi tanah yang primer terhadap tanaman, yaitu :
• Memberikan unsur-unsur mineral, melayaninya baik sebagai medium pertukaran maupun sebagai tempat persediaan.
• Memberikan air dan melayaninya sebagai reservoir
• Melayani tanaman sebagai tempat berpegang dan bertumpu untuk tegak
Tanah merupakan sumber utama zat hara untuk tanaman dan tempat sejumlah perubahan penting dalam sikls pangan.susunan anorganik dalam tanah yang dibentuk dari pelapukan padas dan pengkristalan mineral-mineral. Dapat digolongkan pada liat,debu, pasir dan kerikil.komponen tambahan yang sangat penting adalah bahan organic yang disebut humus. Kaitan hubungan tekstur dan struktur tanah terhadap pertumbuhan tanaman sangat erat. Ada hubungan timbal balik antara komponen satu dengan komponen yang lainnya. Pertumbuhan tanaman dapat dipengaruhi oleh tekstur dan struktur tanah. Dalam keadaan tanah yang memiliki tekstur yang dominan pasir, maka daya ikat tanah terhadap air serta bahan organik lainnya kecil. Tanah dengan tekstur dominan pasir ini cenderung mudah melepas unsur-unsur hara yang dibutuhkan tanaman. Dalam keadaan tanah seperti ini, pertumbuhan akar tanaman akan berkembang dengan baik. Akar mudah untuk melakukan penetrasi ke dalam tanah. Drainase dan aerasi pada tekstur tanah dominan berpasir ini cukup baik, namun tekstur tanah ini cenderung mudah melepas unsur-unsur hara yang dibutuhkan tanaman. Tanaman akan sulit mendapatkan unsur hara, dan pertumbuhan tanaman akan terganggu. Dalam keadaan tanah yang dominan liat, akar pada tanaman akan sulit untuk melakukan penetrasi karena keadaan lingkungan tanah yang lengket pada saat basah dan mengeras pada saat kering. Drainase dan aerasi buruk, sehingga pertukaran udara maupun masuknya unsur hara pada akar tanaman akan terganggu. Pada keadaan basah, tanaman sulit mengikat gas-gas yang berguna bagi proses fisiologi karena pori-pori tanah yang kecil tergenang oleh air (kecuali tanaman padi yang mampu beradaptasi di lingkungan yang tergenang air). Air pada tanah dominan liat ini tidak mudah hilang. Tanaman dapat mengalami kematian, karena kurangnya unsur-unsur yang dibutuhkan tanaman untuk melakukan proses-proses fisiologis yang semestinya. Untuk pertumbuhan tanaman yang baik, tanah dengan aerasi, drainase, serta kemampuan menyimpan air maupun unsur hara yang baik harus memiliki komponen pasir, debu, dan liat yang seimbang. Sehingga tanaman mampu tumbuh dalam keadaan yang optimal. Selain tekstur tanah, faktor lain yang memiliki kaitan yang erat dengan pertumbuhan tanaman adalah struktur tanah. Pada struktur tanah, terdapat berbagai macam komponen yang dapat mempengaruhi tumbuhnya suatu tanaman. Tanah mengandung berbagai macam unsur-unsur makro maupun mikro yang berguna bagi tanaman. Dengan struktur tanah yang mantap (terdapat bahan organik yang cukup, mikroorganisme yang menguntungkan satu sama lain, dan pori-pori tanah cukup baik), maka aerasi (pertukaran O2, CO2, maupun gas-gas lainnya di dalam tanah) akan mampu mencukupi kebutuhan tanaman terhadap unsur-unsur tersebut. Sehingga, tanaman mampu melakukan proses metabolisme dengan baik. Pertumbuhan tanaman juga dipengaruhi oleh agregat tanah (daya ikat antara partikel-partikel dalam tanah).

 Air
Di dalam tanah keberadaan air sangat diperlukan oleh tanaman yang harus tersedia untuk mencukupi kebutuhan untuk evapotranspirasi dan sebagai pelarut, bersama-sama dengan hara terlarut membentuk larutan tanah yang akan diserap oleh akar tanaman. Air sangat penting bagi tanaman karena berfungsi sebagai: (a) Bahan baku (sumber hydrogen) dalam proses fotosintesis , (b). Penyusun protoplasma (c) Bahan atau media dalam proses transpirasi (d). Pelarut unsure hara dalam tanah dan tubuh tanaman serta sebagai media translokasi unsure hara dari dalam tanah ke akar untuk selanjutnya dikirim ke daun.
Dalam Buckman and Brady (1982) disebutkan bahwa keberadaan air berdasarkan klasifikasi biologi air di dalam tanah ada tiga bentuk yaitu : air kelebihan, air tersedia dan air tidak tersedia. Pada umumnya kelebihan air yang terikat pada kapasitas lapangan tidak menguntungkan tanaman tingkat tinggi. Bila terlalu banyak air, keadaannya merugikan pertumbuhan dan menjadi lebih buruk ketika mencapai titik jenuh. Pengaruh buruk yang lain dari kelebihan air adalah terlindinya unsur hara bersama gerakan air tersebut ke bawah. Pada tanah yang bertekstur halus, hal ini mungkin hanya perpindahan unsur hara ke lapisan yang lebih bawah dan tidak terlalu dalam sehingga masih dapat diserap oleh akar tanaman.
Air merupakan pembatas pertumbuhan tanaman karena jika jumlahnya terlalu banyak menimbulkan genangan dan menyebabkan cekaman aerasi sedangkan jika jumlahnya sedikit sering menimbulkan cekaman kekeringan.
Tanaman mendapatkan air dari dalam tanah dan sedikit saja yang berasal dari udara, misalnya embun dan kabut, meskipun pada beberapa jenis tanaman yang tergolong xerophyt dapat hidup hanya dengan mengandalkan air dari udara ini. Dalam tanah, tidak semua air tersedia bagi tanaman. Air yang tertinggal dalam tanah, yang tidak tersedia bagi tanaman dikenal sebagai air higroskopis. Tanaman yang tumbuh pada kondisi seperti ini akan mengalami layu permanen dan mati karena kekurangan air. Dalam hal ini kekurangan air bukan disebabkan oleh adanya transpirasi yang berlebihan karena intensitas radiasi tinggi melainkan karena tidak adanya absorbsi air oleh akar.
 Suhu
Suhu berpengaruh terhadap fisiologi tumbuhan antara lain bukaan stomata, laju transpirasi, laju penyerapan air dan nutrisi, fotosintesis, dan respirasi. Suhu yang terlalu tinggi atau terlalu rendah akan menghambat proses pertumbuhan. Fotosintesis pada tumbuhan biasanya terjadi di daun, batang, atau bagian lain tanaman. Suhu optimum (15°C hingga 30°C) merupakan suhu yang paling baik untuk pertumbuhan. Suhu minimum (± 10°C) merupakan suhu terendah di mana tumbuhan masih dapat tumbuh. Suhu maksimum (30°C hingga 38°C) merupakan suhu tertinggi dimana tumbuhan masih dapat tumbuh.
Kecepatan reaksi dipengaruhi suhu, biasanya makin tinggi suhu, reaksi makin cepat. Jadi, suhu mempunyai efek penting dan tegas pada respirasi. Akan tetapi, hubungan suhu dan reaksi biokimia yang berlangsung dalam tanaman jarang berbanding langsung karena adanya faktor lain yang rumit. Misalnya, hasil akhir yang dihasilkan, seperti gula, dapat menumpuk dan memblokir reksi selanjutnya. Dalam beberapa reaksi, ketersediaan bahan mentah dapat merupakan bahan pembatas.
Suhu yang ekstrem dapat merusak tanaman ; suhu terlalu dingin dan suhu terlalu tinggi dapat mematikan tanaman. Kerusakan akibat suhu tinggi dapat dihubungkan dengan kekeringan (desikasi). Pembakaran tanaman selama cuaca panas luar biasa, biasanya merupakan akibat dari kehilangan air pada kegiatan transpirasi yang terlalu banyak bila dibandingkan dengan absorbsi air. Suhu udara yang sangat panas dapat mempunyai efek mematikan pada tanaman sebagai akibat dari koagulasi protein. Terhentinya pertumbuhan pada suhu tinggi merupakan merupakan suatu gambaran dari suatu keseimbangan metabolic yang terganggu. Bila kecepatan respirasi bertambah lebih cepat daripada kecepatan fotosintesis, maka akan terjadi kekurangan pangan dalam tubuh tanaman.
Untuk beberapa tanaman, waktu yang diperlukan untuk mencapai tahap panen dapat dinyatakan dalam nilai waktu suhu yang disebut satuan panas ( heat units ), yaitu dengan menghitung waktu yang bertalian dengan suhu di atas sesuatu minimum tertentu dalam pertumbuhannya. Dengan asumsi bahwa semua suhu di atas minimum memiliki pengaruh serupa kepada pertumbuhan, akan berkuranglah interval antara tanggal tanam dan panen selama musim berlalu dengan naiknya suhu.
 Cahaya Matahari
Radiasi matahari merupakan faktor utama diantara faktor iklim yang lain, tidak hanya sebagai sumber energi primer tetapi juga karena berpengaruh terhadap keadaan faktor-faktor iklim yang lain seperti suhu, kelembaban dan angin.
Respon tanaman terhadap radiasi matahari pada dasarnya dapat dibagi dalam tiga aspek, yaitu intensitas, kualitas dan fotoperiodisitas. Ketiga aspek ini mempunyai pengaruh yang berbeda satu sama lain, demikian juga keadaannya di alam.
Intensitas radiasi matahari, adalah banyaknya energi yang diterima oleh suatu tanaman per satuan luas dan persatuan waktu. Biasanya diukur dengan satuan kal/cm /hari. Besarnya intensitas radiasi yang diterima oleh tanaman tidak sama untuk setiap tempat dan waktu, antara lain tergantung (1) Jarak antara matahari dan bumi, (2) Musim, dan (3) Letak geografis.
Ditinjau dari sifat fisiologis tanaman, intensitas radiasi matahari antara lain berpengaruh terhadap (1). Laju fotosintesis, (2). Laju transpirasi, (3). Pertumbuhan memanjang dan pertumbuhan menuju kearah datangnya sinar, serta (4) Perkecambahan benih.
Kualitas radiasi matahari, diartikan sebagai proporsi panjang gelombang yang diterima pada suatu tempat dan waktu tertentu. Distribusi spectrum (panjang gelombang) dari sinar matahari yang diterima tanaman berbeda-beda tergantung kepada : (a). Sudut datang matahari atau jarak antara matahari dan bumi, secara harian tergantung kepada inklinasi matahari, (b). Letak daun pada tajuk.
Pengaruh kualitas radiasi matahari biasanya terkait dengan sifat morfogenik tanaman, namun juga tidak terlepas dari proses fotosintesis sebagai proses dalam metabolisme tanaman. Namun juga berpengaruh pada sifat morfogenetik tanaman seperti inisiasi bunga, perkecambahan benih, perpanjangan ruas (inter node) batang dan pembentukan pigmen.
Panjang hari (Fotoperiode), panjang hari didefenisikan sebagai panjang atau lamanya siang hari dihitung mulai dari matahari terbit sampai terbenam ditambah lamanya keadaan remang-remang (selang waktu sebelum matahari berada pada posisi 6 di bawah cakrawala).
Respon tanaman terhadap panjang hari (fotoperiodisme) sering dihubungkan dengan pembungaan, namun sebenarnya banyak aspek pertumbuhan tanaman yang dipengaruhi oleh panjang hari, antara lain : (a) Inisiasi bunga, (b). Produksi dan kesuburan putik dan tepung sari, (c). Pembentukan umbi pada tanaman ubi-ubian, (d) Dormansi benih dan (e). Pertumbuhan tanaman secara keseluruhan.
Berdasarkan respon tanaman terhadap panjang hari ini, tanaman dibagi dalam beberapa kelompok. Ada tanaman yang peka dan ada tanaman yang toleran (netral). Kelompok tanaman yang peka sering dibagi kedalam kelompok fotoperiode lemah yang berarti hanya memberikan pengaruh yang sedikit dibandingkan dengan kelompok fotoperiode kuat yang mempunyai respon tinggi. Dari kelompok fotoperiode kuat tanaman dapat dibedakan menjadi (1). Tanaman hari pendek, yaitu tanaman yang akan berbunga jika fotoperiode lebih pendek dari periode kritis tertentu , dan (2). Tanaman hari panjang.
Panjang hari kritis adalah panjang hari maksimum (untuk tanaman hari pendek) dan minimum (untuk tanaman hari panjang) dimana inisiasi pembungaan masih terjadi. Panjang hari kritis berbeda-beda menurut jenis tanaman dan bahkan varietas.
 Pergerakan hara ke akar tanaman
Berdasarkan penelitian para ahli fisiologi dan tanah menyatakan bahwa secara umum pergerakan hara ke akar tanaman adalah melalui pertukaran kontak, difusi ion dalam larutan tanah dan pergerakan ion bersama gerakan massal ( aliran massal ).
Pertukaran kontak, akar tanaman juga mempunyai kapasitas tukar kaiton seperti tanah. Kation-kation dari kompleks absorbsi tanah dapat dipertukarkan dengan kation-kation yang dihasilkan tanaman, misalnya H+. Pertukaran ini terjadi apabila ada kontak langsung antara kompleks absorbsi dengan bulu akar tanaman.
Difusi, pergerakan ion secara difusi terjadi karena ada perbedaan difusi atau akibat adanya perbedaan kegiatan ion. Hal ini terjadi sering pada H2 PO4, K+. Akar tanaman akan menyerap hara dari larutan di sekitar akar. Hasil gradient dalam pergerakan yang berkesinambungan akan menambah jumlah ion dalam akar, sehingga dapat diserap oleh akar tanaman.
Gerakan (aliran) massal, kejadian ini berlangsung bersama gerakan air ke akar tanaman terutama disebabkan oleh adanya transpirasi (penguapan). Gerakan ion NO3,Ca++,dan Mg++ terutama terjadi karena aliran massal. Pergerakan massal dan pergerakan ion secara difusi merupakan proses yang umum dilalui ion untuk sampai ke akar tanaman.
Ke tiga proses ini berhubungan erat dengan ruang bebas (ruang luas) dan ruang dalam pada akar. Difusi lebih cepat pada tanah yang bertekstur halus dibandingkan dengan tanah yang bertekstur kasar, apabila jumlah air tanah yang tersedia sama. Hal ini disebabkan oleh kemampuan tanah yang bertekstur halus lebih besar daripada tanah yang bertekstur kasar dalam hal menyerap hara pada kompleks absorspsi Kemampuan serapan hara pada tanah juga berhubungan dengan luas permukaan.
Penyerapan hara dapat terjadi dengan perpanjangan akar ketempat baru yang masih kaya hara. Dengan demikian laju penyerapan hara dapat ditingkatkan. Luas area difusi hara berbanding terbalik dengan kecepatan penyerapan hara. Apabila kecepatan penyerapan rendah, maka waktu untuk difusi lebih lama, sehingga ion-ion dapat berdifusi pada jarak yang jauh. Makin besar permukaan penyerapan makin lambat kecepatan penyerapan yang diperlukan, agar jumlah hara yang sama dapat diserap.
Morfologi sistem perakaran mempunyai pengaruh besar terhadap penyerapan hara dari tanah. Akar yang kurus dan panjang mempunyai luas permukaan yang lebih besar dibandingkan dengan akar yang tebal dan pendek, karena dapat menjelajahi lebih efektif pada sejumlah volume yang sama.
Pembentukan agregat tanah dan kebutuhan makanan mikroba tanah dapat berasal dari hasil eksudat akar tanaman, kemungkinan juga dapat berfungsi mempercepat mineralisasi bagi hara yang immobil. Dengan demikian eksudat akar bermanfaat untuk proses penyerapan hara, tetapi juga merupakan racun bagi mikroba tanah, sehingga proses mobilisasi hara dari tanah ke akar tanaman terganggu.
2. FAKTOR BIOTIK
Faktor biotik adalah faktor hidup yang meliputi semua makhluk hidup di bumi, baik tumbuhan maupun hewan. Dalam ekosistem, tumbuhan berperan sebagai produsen, hewan berperan sebagai konsumen, dan mikroorganisme berperan sebagai dekomposer.
Yang termasuk dalam komponen faktor biotik antara lain:
 Hama, penyakit dan gulma
Merupakan faktor lingkungan yang sangat menentukan tingkat dan kualitas hasil tanaman dan bahkan dapat menyebabkan gagalnya panen. Didaerah tropis kerugian hasil sebagai akibat serangan hama dan penyakit pada umumnya lebih besar daripada daerah sub tropis, karena kondisi iklim di tropis yang lembab dan panas sangat menguntungkan bagi perkembangan dan penyebaran penyakit.
Secara umum, penyebab hama dan penyakit berasal dari gangguan faktor lingkungan dan jasad renik. Hama dan penyakit yang berasal dari gangguan faktor-faktor lingkungan misalnya kekurangan hara (Fe, N, P, K, S, Ca, Mg, Zn), kekeringan, suhu yang terlalu panas dan lain sebagainya. Sedangkan penyebab hama dan penyakit yang berasal dari jasad renik, secara umum berasal dari golongan jamur, bakteri, virus dan nematoda.
Ada beberapa cara perlindungan tanaman terhadap penyakit, yaitu : (1) Imunisasi (kekebalan tanaman) yang dapat diperoleh dengan penggunaan varietas resisten, (2). Kemoterapi dengan menggunakan fungisida, dan (3). Propilaktik dengan cara pencegahan (proteksi), legislasi dan eradikasi.
 Kompetisi intra dan antar spesies
Beberapa macam hubungan atau interaksi ekologi antar sesama makhluk hidup terjadi dalam bentuk saling merugikan, saling membunuh, atau saling menguntungkan. Berikut ini uraian interaksi antar spesies dalam suatu komunitas.
Kompetisi dapat didefinisikan sebagai perebutan antara individu tanaman dalam populasi terhadap sumber daya yang dibutuhkan tanaman, dimana tingkat ketersediaan sumber daya tersebut berada di bawah tingkat kebutuhan total dari individu-individu dalam populasi.
Kompetisi dapat terjadi antara individu tanaman dalam spesies yang sama dan atau antar spesies. Kompetisi antar jenis tanaman dalam pola tanam campuran atau tumpang sari dan kompetisi antara tanaman dengan gulma termasuk kompetisi antar spesies, sedangkan kompetisi antar individu pada jenis atau spesies yang sama disebut kompetisi dalam spesies atau kompetisi intra spesies.
Kompetisi antar individu tanaman pada spesies yang sama dalam populasi biasanya terjadi di lapang karena adanya pengaturan jarak tanaman dan jumlah tanaman per lubang tanam untuk mendapatkan populasi optimum agar diperoleh hasil maksimum. Pada populasi optimum kompetisi bisa terjadi dan pertumbuhan serta hasil per individu tanaman berkurang karenanya, namun karena jumlah tanaman per hektar bertambah dengan meningkatnya populasi, maka hasil panen per hektar masih dapat meningkat. Namun bila jarak tanam terlalu rapat atau populasi terlalu tinggi, kompetisi antar individu tanaman akan berlangsung begitu kuat sehingga pertumbuhan dan hasil per tanaman akan sangat berkurang dan akibatnya hasil per hektar menurun. Sebaliknya, bila jarak tanam terlalu renggang atau populasi terlalu rendah maka hasil per hektar akan rendah karena penggunaan lahan tidak efisien, banyak ruang kosong diantara tajuk tanam.
 Konsep Aliran Energi dalam Pertanian
Konsep bahwa pertanian merupakan teknologi yang mengarahkan aliran dan konsentrasi energi, akan memberikan sumbangan potensial. Hal ini memberikan suatu denominator umum yaitu energi, dan memberikan standar mutlak budidaya yang berbeda.
Aliran energi dalam pertanian merupakan kunci keseimbangan energi di ekosistem secara keseluruhan. Seluruh kegiatan pertanian yang ditunjukkan untuk memperoleh produksi maksimum per unit satuan luas tertentu dari tanah pertanian, yaitu dengan (1) melakukan tata cara bertani menggunakan teknologi yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh keuntungan maksimum, (2) menekan sekecil kecilnya ketidakmantapan dalam produksi pertanian, dan (3) mencegah penurunan kapasitas produksi tetapi secara langsung juga tidak mengorbankan keseimbangan.

 Mengukur Produktivitas
Tujuan utama ahli-ahli pertanian adalah untuk menaikkan koefisien pengubahan energi matahari ke produk yang berfaedah. Produktivitas tanaman dapat dengan dengan tepat ditaksir dengan mengukur, baik oksigen yang dikeluarkan maupun karbondioksida yang digunakan dalam proses fotosintesis. CO2 dari lingkungan yang hilang pada produktivitas berbanding lurus dengan jumlah C yang terikat dalam gula selama fotosintesis.
Satuan tunggal yang digunakan untuk banyaknya energi yang digunakan dalam pengukuran produktivitas adalah kalori, yang sama kegunaannya sejak energi cahaya di tangkap tanaman sampai digabungkan ke dalam produk konsumen. Proses pendugaan nilai energi dalam ekivalen kalori merupakan proses yang agak rumit dan harus dilakukan dengan pengambilan contoh yang teratur secara statistik tentang biomassanya. Nilai dari bahan organik ditentukan dengan membakar sejumlah nahan yang diketahui dibawah kondisi yang diatur secara hati-hati dan menentukan berapa banyak panas yang dihasilkan.
 Menaikkan Produksi Tanaman
Salah satu anomali yang dihadapi masa kini adalah bahwa beberapa daerah dari dunia dikaruniai surplus pertanian sementara yang lainnya diancam kekurangan yang menyakitkan terus menerus. Cara yang pantas untuk menikkan produksi tergantung pada tingkatan teknologi yang ada disuatu tempat. Untuk daerah berkembang, produktivitas tanah dinaikkan dengan banyak teknik-teknik pertanian yang sudah merupakan hal yang rutin dilakukan di negara maju. Di daerah pertanian yang telah maju, masalah produksi yang praktis dan segera, jumlah pupuk dan cara-cara pemberiannya, pemberantasan hama, kedalaman pembajakan optimum, lama periode rotasi, pemilihan pemberantasan gulma lah yang banyak mendapat perhatian dan terkoordinir secara efektif dan efisien sehingga produksi pertaniannya tidak diragukan lagi.
 Penggunaan Limbah Pertanian
Untuk memperbesar penggunaan energi, limbah pertanian dapat dimanfaatkan untuk keperluan manusia seperti jagung, sepah tebu, serbuk gergaji dan lain-lain. Limbah industri juga banyak diolah menjadi makanan ternak.
 Penangkapan Energi
Telah banyak usaha-usaha untuk memperluas alat penangkapan energi eksplotasi laut, perluasan kedaerah padang pasir dan daerah beriklim buruk, memperpanjang musim tanam, misal dengan penggunaan rumah kaca. Morfologi tanaman juga mempunyai hubungan dengan penangkapan energi. Banyak sekali penangkapan energi yang terjadi dalam kehidupan. Penangkapan energi akhir-akhir ini banyak dimanfaatkan dalam bisnis, misalnya penggunaan komputer untuk merencanakan pergiliran peristiwa-peristiwa yang paling ekonomik dan menguntungkan.
 Pangan dan Kebutuhan Manusia
Pangan adalah bahan yang apapun bagi suatu organisme memberi energi dan zat gizi. Pangan yang tidak cukup, dapat menimbulkan akibat yang tidak baik terutama pada anak-anak yaitu mempengaruhi pertumbuhan dan juga mempengaruhi dan menimbulkan banyak penyakit.
 Gizi
Gizi adalah segala sesuatu bahan (pangan) yang bisa digunakan atau bermanfaat bagi manusia. Diantara bahan yang dibutuhkan mencakup bahan-bahan anorganik dan organik.

About onoe21

Tidak ada kata tidak bisa, tidak mau dan tidak mampu selagi orang tersebut masih hidup
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s