Guru

E F#m
Kuingin sepertiMu Tuhan
A B E
Kuingin menjadi muridMu
A
Kuingin mengikut teladanMu
E B E B
Dalam hidupku
E F#m
Guruku, kumau diajar olehMu
A B E
Guruku, kumau taat kepadaMu
E A E B E B
Guruku, bentuklah aku menjadi serupa dengan Mu
E F#m
Tuhan Yesus Guruku, Engkau mengajariku
A B A E
Tentang wujud kebenaran dalam pribadi MU
E F#m
Tuhan Yesus Guruku, Engkau menjadikanku
A B A B E
Sebagai murid Tuhan yang berhati sungguh

Posted in Uncategorized | Leave a comment

SCP DAN STP DALAM STRATEGI PEMASARAN Agribisnis

PEMASARAN
“ SCP DAN STP DALAM STRATEGI PEMASARAN “

NAMA KELOMPOK
EDI RAHMAN D1B011013
HARIONO.S D1B011016
WELDY A. SIREGAR D1B011030

AGRIBISNIS
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS JAMBI
2013

S-C-P ( Structure – Conduct – Performance )
Struktur, perilaku, dan kinerja atau biasa disebut S-C-P (Structure-Conduct-Performance) merupakan tiga pilar utama yang dapat digunakan untuk melihat kondisi struktur dan persaingan di dunia industri, termasuk pasar media massa. Struktur pasar media yang kepemilikannya terkonsentrasi sebagaimana indikasi adanya konglomerasi yang terjadi dalam peta persaingan pers daerah di Indonesia dalam praktiknya mempengaruhi perilaku perusahaan media yang secara bersama-sama menentukan kinerja sistem pasar media cetak di tanah air.
Dalam industri media, konglomerasi memiliki pengaruh yang cukup kuat, antara lain ditunjukkan melalui pola-pola kerjasama yang dibangun dalam struktur jaringan, sentralisasi sumber informasi dan distribusi, serta homogenisasi sistem keagenan dalam jaringan distribusi dan sirkulasi. Pengaruh konglomerasi tersebut pada akhirnya membentuk karakteristik media yang khas, menunjukkan output produk media dalam struktur pasar oligopoli.
Hoskins. dkk (2004), Hiebert. dkk (1991), McQuaill (1992) dan Albarran (1996) mengemukakan 3 kerangka analisis yang dapat menjelaskan berbagai sisi kerja bisnis media. Ketiga kerangka tersebut sekaligus merupakan indikator yang cukup relevan untuk menilai karakteristik industri media karena menyajikan informasi pokok terkait dengan keunikan operasi bisnis media massa. Ketiga kerangka analisis yang dimaksud meliputi struktur ekonomi (structure), operasionalisasi perusahaan (conduct), dan kinerja perusahaan (performance). Pendekatan SCP sendiri pertama kali diperkenalkan oleh Mason (1939) yang kemudian diaplikasikan oleh Bain (1951) melalui studi lintas disiplin (Wirth dan Bloch, 1995). Esensi pendekatan SCP terhadap analisis organisasi industri adalah adanya hipotesis yang menyatakan bahwa performance atau keberadaan pasar (atau industri) dipengaruhi oleh perilaku perusahaan dalam pasar, sedangkan perusahaan dipengaruhi pula oleh berbagai variabel yang membentuk struktur pasar (Wirth dan Bloch, 1995). Berikut akan dipaparkan masing-masing bagian:
a. Struktur (Structure)
Pengertian “struktur” mengacu pada struktur pasar yang biasanya ditentukan oleh rasio konsentrasi pasar. Rasio konsentrasi pasar adalah perbandingan yang mengukur distribusi pangsa pasar dalam industri. Sebuah industri yang 70 % pangsa pasarnya dikuasai oleh hanya 2 perusahaan dalam industri misalnya, dapat disebut memiliki struktur pasar yang sangat terkonsentrasi. Untuk menilai struktur pasar ini diperlukan sejumlah variabel, antara lain jumlah penjual dan pembeli, tingkat diferensiasi produk, kemampuan perusahaan (khususnya bagaimana perusahaan menciptakan pilihan-pilihan produk bagi konsumen), kemampuan perusahaan dalam menembus pasar bebas, seperti memperoleh lisensi dari pemerintah, franchise, hak monopoli, hak paten, dan hambatan yang terkait dengan biaya.
1) Jumlah lembaga pemasaran
Lembaga pemasaran ubi jalar di daerah penelitian melibatkan dua lembaga perantara, yaitu pedagang pengumpul dan pedagang besar. Berdasarkan hasil penelitian terdapat 10 orang pedagang pengumpul, 5 pedagang besar, 12 pedagang pengecer I, dan 2 pedagang pengecer II di Kabupaten Lampung Tengah. Jika dilihat dari jumlah pembeli dan penjual yang terlibat dalam pemasaran ubi jalar di daerah penelitian, maka pelaku pemasaran berada pada struktur oligopsoni, pasar ini terdiri dari beberapa pembeli yang menghadapi jumlah penjual yang banyak. Pemasaran dikatakan efisien apabila tercipta keadaan dimana pihak-pihak yang terlibat baik produsen, lembaga-lembaga pemasaran maupun konsumen memperoleh kepuasan dengan adanya aktivitas pemasaran (Limbong dan Sitorus, 1987).
2) Diferensiasi produk
Diferensiasi produk mengacu pada berbagai jenis produk (ubi jalar) yang dihasilkan oleh petani produsen. Ubi jalar yang dihasilkan oleh petani semuanya sama, yaitu ubi jalar dalam bentuk umbi. Tidak ada perlakuan khusus yang dilakukan petani terhadap hasil panennya. Ubi jalar yang telah dipanen tersebut kemudian dikumpulkan ke pinggir lahan atau diangkut ke rumah petani. Selanjutnya, pengumpul akan datang untuk membeli ubi jalar dengan membawa alat timbangan dan karung.
3) Kondisi keluar masuk pasar
Berdasarkan hasil penelitian, pedagang pengumpul, pedagang besar, pedagang pengecer I dan pedagang pengecer II bebas keluar masuk suatu daerah untuk mencari ubi jalar yang akan dibeli, tidak ada pembagian wilayah yang jelas antara pedagang yang satu dengan yang lain. Persaingan yang terjadi antara pedagang biasanya dalam bentuk harga yang ditawarkan.
Menurut Hiebert, dkk (1991), untuk dapat memetakan lebih detail aspek-aspek struktur pasar, perlu menyimak pemikiran David E. Porter. Tokoh manajemen strategik ini merinci elemen-elemen dalam struktur yang mampu mempengaruhi kekuatan bersaing suatu industri. Menurutnya, terdapat lima elemen dalam struktur pasar, yaitu (1) pendatang baru, (2) pemasok, (3) pembeli, (4) produk pengganti, dan (5) pesaing.
b. Perilaku (Conduct)
Menurut Ferguson dan Ferguson(1994), istilah conduct mengacu pada perilaku perusahaan terhadap pasar dalam menentukan harga (baik harga yang ditentukan secara independen ataupun berdasarkan kesepakatan), strategi produk dan iklan, serta riset dan inovasi (Wirth dan Bloch, 1995). Penekanan hal ini adalah bagaimana perusahaan menentukan pilihan media iklan dan menyusun anggaran belanja untuk riset/melakukan penelitian terhadap produk dalam masyarakat. Scherer dan Ross (1990: 4) mengidentifikasi dua variabel lain dalam conduct: investasi dalam fasilitas produksi (misalnya, bagaimana perusahaan menyusun anggaran) dan sesuai dengan aturan hukum (yaitu penggunaan sistem hukum untuk menentukan posisi perusahaan dalam pasar) (Wirth dan Bloch, 1995).
Secara sederhana, perilaku bisnis media utamanya mencakup kegiatan produksi dan konsumsi. Kegiatan produksi dalam industri media mencakup 2 produk: (1) media goods; merupakan produk fisik media,mislanya bentuk dan ukuran suratkabar, (2) media services; menunjuk pada content media atau aktivitas-aktivitas pendukung yang memasok produk, misalnya berbentuk berita atau artikel. Kegiatan konsumsi industri media mencakup pemenuhan kebutuhan media goods dan media services untuk dua pasar sasaran (pasar dua sisi), yakni pembaca dan pengiklan. Model bisnis media cetak adalah penjualan dua produk utama yaitu isi informasi yang dibaca oleh pembacanya, dan akses ke pembaca itu, yang dijual kepada pengiklan. Keberadaan dua jenis konsumen ini sangat menentukan kelangsungan hidup institusi media. Karenanya untuk memaksimalkan keuntungan, pengelola media selau berorientasi pada kepentingan pembaca dan pengiklan. Itulah sebabnya, selera kebanyakan konsumen akan menjadi tolok ukur utama proses produksi media.
Dalam struktur pasar yang normal, operasi bisnis suratkabar dalam merespon harga dan kuantitas produk selalu berdasarkan pada mekanisme supply and demand. Dalam mekanisme ini, audiens atau pengguna media mengambil keputusan membeli media goods dan services. Demand adalah keinginan menggunakan media dan kemampuan membeli produk media. Keinginan ini dipengaruhi oleh kebutuhan konsumen pada produk media. Khusus bagi pengiklan, keinginan tersebut terkait dengan kebutuhan akan space iklan. Di samping itu, consumer demand pun ditentukan oleh kemampuan konsumen membeli produk media atau space iklan. Pembelian produk media umumnya mengacu pada pembelian produk fisik media, sementara space iklan mengacu pada pada pembelian ruang atau halam media untuk beriklan. Consumer demand dipengaruhi oleh 3 hal: (1) Produk; terkait dengan variasi dan content media yang ada dipasar; (2) Harga; terkait dengan jumlah pengorbanan finansial yang menjadi beban konsumen untuk mengakses atau mengkonsumsi media; dan (3) Karakteristik pasar; terkait dengan selera konsumen, daya beli, perilaku pembelian media, presepsi tentang nilai media, prioritas kebutuhan, dan sebagainya.
Sementara itu, supply mencakup kuantitas barang (goods) yang memenuhi permintaan konsumen dalam suatu rentang waktu tertentu dengan penawaran harga dan karakteristik produk yang menarik. Perusahaan media dituntut dapat merespon kepentingan konsumen agar produk medianya dapat diterima. Prasyarat inilah yang mendorong perusahaan selalu berupaya memahami kebutuhan dan keinginan konsumen termasuk merancang spesifikasi produk suratkabar yang berbeda dari pesaingnya.
c. Kinerja (Performance)
Terdapat beberapa kriteria yang dapat digunakan untuk menilai kinerja ekonomi industri media, antara lain: keuntungan perusahaan; alokasi dan efisiensi produksi (dalam hal ini bagaimana caranya agar perusahaan tidak mengeluarkan sumber daya dengan percuma, dan bagaimana perusahaan dapat menghasilkan produk yang tepat baik dalam kuantitas, dan kualitas untuk memenuhi kepuasan konsumen); dan distribusi pendapatan yang sesuai. Lebih jauh, variabel performance yang melengkapi pengambilan keputusan industri media mencakup bagaimana perusahaan dalam pasar media memberikan kontribusi terhadap kesempatan yang sama bagi para pegawainya. Untuk keperluan analisis, variabel-variabel tersebut dapat disederhakan menjadi 3 indikator: (1) efisiensi, (2) penggunaan teknologi, dan (3) kemampuan meningkatkan akses audiens (pembaca/penonton/pengakses).
Kriteria pertama adalah efisiensi. Efisiensi dalam industri media identik dengan tujuan perusahaan. Pentingnya efisiensi ini terkait dengan keterbatasan sumber daya yang dimiliki perusahaan. Efisiensi merupakan karakteristik utama operasionalisasi bisnis yang berdampak langsung pada maksimalisasi profit. Bertolak dari tujuan tersebut, proses produksi media mengenal orientasi massal yang diasumsikan memperkecil biaya produksi untuk satu unit produk. Itulah sebabnya ukuran-ukuran yang sifatnya kuantitatif menjadi tolak ukur penilaian performance perusahaan media. Identifikasi performance perusahaan suratkabar, majalah dan tabloid dikaitkan dengan oplah media, sementara penyiaran televisi dan radio dihubungkan dengan perolehan rating, sedangkan VCD dan produk-produk rekaman dipautkan dengan jumlah copy produk yang terjual. Sedangkan film dikaitkan dengan jumlah penjualan tiket. Semakin besar kuantitas penjualan (atau terpaan media/media exposure) produk, perusahaan dinilai efektif dari segi produksinya.
Kriteria kedua dalam menilai performance industri media berhubungan dengan penggunaan teknologi. Perkembangan industri media dengan penggunaan teknologi informasi berjalan sinergis. Semakin berkembang industri tersebut semakin intensif aplikasi teknologinya. Bahkan Hiebert. dkk (1991) meyakinkan bahwa inovasi terhadap teknologi baru akan mendukung perolehan profit serta memungkinkan perusahaan-perusahaan besar mempertahankan keuntungan maksimal (highly profitable positions). Dalam banyak kasus, teknologi informasi memberikan dukungan lebih besar bagi peningkatan efisiensi produksi dan distribusi produk. Sebagai contoh, teknologi cetak jarak jauh telah berdampak besar pada proses produksi pesan dan distribusi media. Teknologi satelit terbukti telah mempermudah perusahaan penyiaran mendistribusikan program acaranya kepada audiens yang lebih luas. Juga teknologi komputer dan internet telah mempengaruhi proses editing berita menjadi sangat mudah dan cepat.
Kriteria ketiga dalam menilai performance menyangkut kemampuan meningkatkan audiens. Performance industri ini dikaitkan dengan kemampuan perusahaan menjangkau khalayak atau konsumennya. Dalam konteks ini perusahaan didorong untuk membangun fasilitas-fasilitas yang memudahkan khalayak mengaksesnya. Tingginya daya jangkau media dari segi eknonomi akhirnya tidak hanya berdampak positif pada maksimalisasi pendapatan media cetak melalui oplah, namun juga melalui peningkatan jumlah pengiklan.
S-T-P (Segmentation, Targeting dan Positioning )
Ada tiga elemen dalam strategi pemasaran yaitu segmentation, targeting dan positioning. Segmentasi pada dasarnya adalah suatu strategi untuk memahami struktur pasar. Sedangkan targeting adalah persoalan bagaimana memilih, menyeleksi dan menjangkau pasar. Setelah pasar sasaran dipilih, maka proses selanjutnya adalah melakukan positioning. Positioning pada dasarnya adalah suatu strategi untuk memasuki jendela otak konsumen. Positioning biasanya tidak menjadi masalah dan tidak dianggap penting selama barang-barang yang tersedia dalam suatu masyarakat tidak begitu banyak dan persaingan belum menjadi sesuatu yang penting. Positioning baru akan menjadi penting bilamana persaingan suda sangat sengit. Dalam praktek manajemen pemasaran dikenal adanya istilah STP atau singkatan dari segmentation, targeting dan positioning. Kita akan mencoba membahasnya satu persatu disertai dengan contoh actual . Untuk mencapai hasil pemasaran yang optimal, kita pertama kali harus terlebih dahulu melakukan segmentasi pasar atas produk yang akan kita jual . Segmentasi pasar pada intinya membagi potensi pasar menjadi bagian – bagian tertentu ; bisa berdasar pembagian demografis ; berdasar kelas ekonomi dan pendidikan ataupun juga berdasar gaya hidup (psikografis) .
a. Segmentasi
Kotler, mendefinisikan segmentasi pasar sebagai suatu proses untuk membagi pasar menjadi kelompok-kelompok konsumen yang lebih homogen, dimana tiap kelompok konsumen dapat dipilih sebagai target pasar untuk dicapai perusahaan dengan strategi bauran pemasarannya.
Sofjan Assauri, dimaksudkan sebagai kegiatan membagi suatu pasar kedalam kelompok – kelompok yang berbeda. Pada dasarnya segmentasi pasar merupakan suatu strategi yang didasarkan pada falsafah manajemen pemasaran yang berorientasi pada konsumen. Segmentasi pasar adalah suatu cara untuk membedakan pasar menurut golongan pembeli, kebutuhan pemakai, motif, perilaku dan kebiasaan pembelian, cara penggunaan produk dan tujuan pembelian produk tersebut.
Segmentasi pasar membantu perusahaan untuk membuat suatu produk yang spesifik dan memenuhi kebutuhan sebagian pasar yang menjadi targetnya, sehingga kegunaan segmentasi pasar untuk desain strategi pemasaran adalah sebagai berikut :
• Memperoleh posisi bersaing yang lebih efektif bagi merek-merek yang ada
• Lebih mengefektifkan lagi posisi merek saat ini dengan bertumpu pada pasar yang terbatas
• Memisahkan posisi dua atau lebih merek dari perusahaan yang sama untuk meminimalisasi kanibalisme
• Mengidentifikasi gap dalam pasar yang menunjukkan peluang untuk mengembangkan produk baru.
Segmentasi pasar yang efektif harus memenuhi persyaratan berikut :
• Dapat diukur (measureability) : menunjukkan bahwa besar daya beli setiap segmen harus dapat diukur dengan tingkat tertentu, meskipun pada kenyataannya beberapa variabel tertentu tidak mudah diukur.
• Dapat dicapai atau dijangkau (accessibility) : menunjukkan seberapa jauh segmen dapat dijangkau dan dilayani dengan efektif.
• Berarti atau cukup luas (substantially) : suatu kelompok akan pantas disebut segmen apabila cukup besar dan atau cukup menguntungkan.
• Layak atau dapat dilaksanakan (feasibility) : menunjukkan seberapa jauh program-program efektif dapat disusun untuk menarik minat segmen.
Dalam melakukan segmentasi pasar terdapat prosedur yang biasa dilakukan dalam riset pemasaran, dimana tediri dari tiga tahap yaitu :
• Tahap survey
Para peneliti akan mengadakan wawancara dan membentuk tim fokus untuk menambah pengetahuan tentang motivasi, sikap dan perilaku konsumen dan untuk melakukan hal tersebut peneliti menyiapkan kuesioner formal untuk mengumpulkan data tentang :
1. Atribut-atribut produk dan tingkat kepentingannya
2. Perhatian merek (brand awareness) dan rating merek (brand ratings)
3. Pola penggunaan produk
4. Sikap berdasarkan kategori produk
5. Demografik psikografik dan mediagrafik dari responden
• Tahap Analisis
Peneliti akan menggunakan analisis faktor terhadap data untuk memisahkan variabel yang berkorelasi tinggi, lalu dilakukan analisis pengelompokkan untuk menghasilkan segmen-segmen pasar
• Tahap Pemberian Profil
Masing-masing kelompok akan diberikan profil yang berhubungan dengan sikap, perilaku, demografik, psikografik dan kebiasaan konsumsi media.
 Segmentasi Atas Jenis Pasar
Dalam usaha untuk memberi arah dalam pengembangan pelayanan pemasaran dan perumusan strategi pemsaran secra tepat, diperlukan kerangka analisa pasar denagn mempertimbangkan cirri atau sifat para pembeli, segmentasi pasar yang tepat sebagai dasar penetapan pasar sasaran.
Pada dasarnya pasar dapat dibedakan menjadi 4 jenis atau tipe pasar
1. Pasar konsumen ( “ consumer market “)
Para konsumen secara rasional akan memeli produk dengan pertimbangan kualitas.
2. Pasar produsen ( “ produser market “)
Motif pembelian dari sebagian besar produsen bersifat rasional terutama pembelian dalam jumlah volume rupiah yang besar.
3. Pasar pedagang ( “reseller market “)
Disebut pedagang perantara, yaitu dialer dan distributor. Dalam pasar ini biasanya diperdagangkan barang jadi. Umumnya memperhatikan beberapa faktor yaitu syarat pembayaran, waktu pembayaran, potongan harga, dan pelayanan.
4. Pasar pemerintah (“ government market “)
Instansi pemerintah dalam hal ini terdiri dari instansi pemerinta pusat,lembaga tertinggi dan tinggi negara, instansi pemerintah daerah tingkat satu, instansi pemerintah tingkat 2, kecematan,dan kelurahan.
Karena komplek atau rumitnya suatu pasar, maka diperlukan suatu kerangka umum, yang dikenal dengan konsep 6 O.
a. Siapa yang ada dalam pasar tersebut, yaitu “ occupants “
b. Apa yang dibeli oleh pasar tersebut, yaitu “object”.
c. Kapan terjadi transaksi pembelian , yaitu “ occasion “
d. Siapa yang ikut serta dalam pembelain , yaitu “ organization “
e. Mengapa pasar itu membeli ,aitu “ objectives “
f. Bagaimana caranya pasar itu membeli ,yaitu “operation “

b. Target (Targeting)
Target (targeting) adalah memilih satu atau lebih segmen pasar untuk dimasuki atau cara perusahaan mengoptimalkan suatu pasar dan dalam penentuan target pasar perusahaan harus menggunakan konsep prioritas, variabilitas dan fleksibilitas. Konsep prioritas dipakai karena perusahaan tidak bisa melayani semua orang dalam satu pasar. Konsep variabilitas digunakan untuk menghadapi situasi persaingan yang sudah semakin meningkat, karena perusahaan tidak bisa memberikan pelayanan yang sama kepada semua orang yang usah diprioritaskan. Semakin sama akan semakin tidak optimal, dan perusahaan dapat optimal dalam melayani orang jika bisa memberikan lebih banyak variasi.
Posisi (Positioning)
Pengertian positioning diberikan oleh beberapa ahli sebagai berikut :
• Menurut Don E. Schwitz
Positioning adalah bagaimana untuk meningkatkan sekaligus menempatkan produk yang kita buat terhadap pesaing kita dalam pikiran konsumen, dengan kata lain positioning dipakai untuk mengisi dan memenuhi keinginan konsumen dalam kategori tertentu
• Menurut Kotler
Sebuah tindakan dalam mendesain penawaran perusahaan dan image sehingga menciptakan tempat dan nilai tersendiri dalam pikiran konsumen.
• Menurut David A. Aaker
Positioning merupakan kata lain dari “kesan”, dan kesan itu ditujukan kepada sejumlah obyek yang membentuk persaingan satu sama lain.
Jadi dapat disimpulkan positioning merupakan suatu usaha yang dilakukan oleh perusahaan dalam mendesain produk-produk mereka sehingga dapat menciptakan kesan dan image tersendiri dalam pikiran konsumennya sesuai dengan yang diharapkan.
Beberapa strategi penentuan posisi (positioning) untuk menghadapi dunia persaingan adalah sebagai berikut :
• Penentuan posisi menurut atribut : Perusahaan memposisikan diri menurut atribut seperti ukuran, lama keberadaannya dan seterusnya
• Penentuan posisi menurut manfaat : Produk diposisikan sebagai pemimpin dalam suatu manfaat tertentu.
• Penentuan posisi menurut penggunaan atau penerapan : Memposisikan produk sebagai yang terbaik untuk sejumlah penggunaan atau penerapan
• Penentuan posisi menurut pemakai : Memposisikan produk sebagai yang terbaik untuk sejumlah kelompok pemakai.
• Penentuan posisi menurut pesaing : Produk memposisikan diri lebih baik daripada pesaing yang disebutkan namanya atau tersirat
• Penentuan posisi menurut kategori produk : Produk diposisikan sebagai pemimpin dalam suatu kategori produk
• Penentuan posisi kualitas atau harga : Produk diposisikan menawarkan nilai terbaik
Menurut Kotler terdapat 4 klasifikasi posisi perusahaan menurut peranannya dalam pasar sasaran, yaitu :
• Pemimpin pasar
Perusahaan ini memiliki pangsa pasar terbesar dan biasanya memimpin dalam perubahan harga, peluncuran produk baru, cakupan distribusi dan intensitas promosi. pemimpin ini mungkin atau mungkin tidak dikagumi atau dihormati tetapi perusahaan lain mengakui dominasinya. pemimpin ini menjadi titik orientasi bagi para pesaing menjadi perusahaan untuk ditantang,ditiru atau dihindari.
• Penantang pasar
Posisi perusahaan ini berada setelah pemimpin pasar atau berada pada posisi kedua. Perusahaan ini dapat melakukan dua hal, mereka dapat menyerang si pemimpin pasar secara agresif untuk mendapatkan pangsa pasar (penantang pasar) atau mereka dapat tenang dan tidak menimbulkan gejolak (pengikut pasar)
• Pengikut pasar
Perusahaan model ini lebih suka mengikuti daripada menantang pemimpin pasar. Adapun hal-hal yang ditiru biasanya pada produk, distribusi dan iklan si pemimpin, tetapi meskipun strategi pemasarannya mengikuti si pemimpin pasar biasanya masih terdapat perbedaan dibanding si pemimpin pasar seperti harga, kemasan atau selain mengadaptasi kadang-kadang memperbaikinya.
• Perelung Pasar
Perusahaan yang melayani segmen pasar kecil yang tidak dilayani oleh perusahaan besar. Perusahaan kecil umumnya menghindari persaingan melawan perusahaan besar dan mengarah pasar kecil yang tidak menarik perusahaan besar dan ide dasar penceruk adalah spesialisasi.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Laporan Praktikum Dasar-Dasar Agronomi “Kacang Tanah”

Laporan Praktikum Dasar-Dasar Agronomi
“PENGARUH JARAK LUBANG TANAM DAN APLIKASI PUPUK KOMPOS TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL KACANG TANAH”
(Arachis hypogeal L)

Logo Unja 3D

DOSEN PEMBIMBING
Ir. Ahmad Ridwan, M.Si

DISUSUN OLEH:
KELOMPOK III

1. Hariono.S D1B011016
2. Rian Heryanto D1B011017
3. Resti Desperina Putri D1B011018
4. Siti Hapsah D1B011019
5. Rini Ariani D1B011020
6. Tri Arianto D1B011021

AGRIBISNIS
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSTAS JAMBI
2013
I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Kacang tanah adalah suatu komoditi penting diantara tanaman kacang-kacang lain. Karena dapat dipergunakan untuk menambah pendapatan petani dan memenuhi kebutuhan petani dan memenuhi kebutuhan industri.
Produktivitas kacang tanah pada saat ini termasuk rendah. Salah satu solusi untuk meningkatkan produktivitas hasil adalah dengan perbaikan teknik budidaya tanaman. Usaha ekstensiifikasi akan sia – sia jika tidak didukung dengan intensifikasi dalam memproduksi kacang tanah.
Banyak cara yang ditempuh untuk peningkatan hasil kacang tanah, diantaranya penataan dan pengolahan lahan berdayaguna, pengaturan pola dan jarak tanam, pemupukan, pemilihan benih atau varietas dan juga jumlah benih yang digunakan.
Pupuk sebagai salah satu sarana produksi dalam usaha produksi dalam usaha bercocok tanam dalam aplikasinya perlu mendapat perhatian serius agar memberi hasil maksimum. Penggunaan pupuk perlu memperhatikan dosis, cara penggunaan, waktu pemberian dan jenis pupuk yg di berikan.
Sebagai tanaman budidaya, kacang tanah terunama dipanen bijinya yang kaya protein dan lemak. Biji ini dapat dimakan mentah, direbus, digoreng atau disangrai. Di Amerika Serikat, biji kacang tanah diproses menjadi selai dan merupakan industri pangan yang menguntungkan. Produksi minyak kacang tanah mencapai sekitar 10% pasaran minyak masak dunia pada tahun 2003 menurut FAO. Selain dipanen biji atau polongnya, kacang tanah juga dipanen hijauannya ( daun dan batang ) untuk makanan ternak atau merupakan pupuk hijau.
Kacang tanah merupakan tanaman pangan yang mendapat prioritas kedua untuk dikembangkan dan ditingkatkan produksinya setelah padi. Hal ini didorong dengan semakin meningkatnya kebutuhan akan pangan, bahan baku industri dan pakan ternak. Tanaman kacang tanah bisa dimanfaatkan untuk makanan ternak, sedangkan bijinya dimanfaatkan sebagai sumber protein nabati, minyak, dan lain lain.
Kacang tanah kaya dengan lemak, mengandung protein yang tinggi, zat besi, vitamin E dan kalsium, vitamin B kompleks dan Fosforus, vitamin A dan K, lesitin, kolin dan kalsium. Kandungan protein dalam kacang tanah adalah jauh lebih tinggi dari daging, telur dan kacang soya. Mempunyai rasa yang manis dan banyak digunakan membuat beraneka jenis kue.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan judul laporan ini dapat dirumuskan masalah:
a. Pengaruh jarak lubang tanam terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman
b. Pengaruh pupuk kompos terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman

1.3. Tujuan Percobaan
Adapun tujuan percobaan ini adalah mengetahui Pengaruh jarak tanaman dan pengaruh pupuk kompos terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman.

II. TINJAUAN PUSTAKA
Pupuk yang digunakan dalam budidaya tanaman banyak jenisnya, Radjaguk (1999) menyatakan secara umum pupuk terbagi ke dalam dua bagian utama yaitu pupuk organik (alami) dan pupuk buatan.
Maas (1996) menyatakan disamping pupuk an-organik, peranan pupuk organik tidak dapat diabaikan. Contoh pupuk organik yang sangat potensial adalah kompos, kotoran hewan seperti sapi lembu, ayam, kuda, merpati dan juga kotoran-kotoran burung (guano).
Penggunaan benih bermutu merupakan syarat utama dalam pengembangan setiap komoditi yang diusahakan (kamil, 1985). Dari segi benih, jumlah benih per lubang juga harus diperhatikan dalam budidaya tanaman kacang tanah. Jumlah benih yang terlalu berlebihan per lubang tidak akan memberikan hasil optimal.
Daerah pertanian kacang tanah di indonesia sebagian besar terdapat di pulau Jawa. Oldeman dan Frere (1982) menyatakan bahwa pada tahun 1977 hasil produksi tanaman kacang tanah di Jawa Barat mencapai rata-rata 0.80 ton/Ha, di Jawa timur 0.78 ton/Ha sedangkan di Sumatera utara hanya 0.10 ton/Ha. Pada tahun 1978 di jawa Barat dan Jawa Timur terjadi kenaikan produksi tanaman kacang tanah, yaitu masing-masing mempunyai rata-rata 0.90 to/Ha dan 0.80 ton/Ha perhektar.
Umur tanaman kacang tanah tipe tegak berkisar antara 100 hari – 120 hari, sedangkan yang bertipe menjalar berkisar antara 5 bulan sampai 6 bulan. Tanaman kacang tanah dapat tumbuh di daratan rendah sampai ketinggian rata-rata 500 meter di atas permukaan laut (dpl). Pada tempat – tempat yang lebih tinggi dari 500 meter dpl laju pertumbuhannya akan lamban dan hasil kandungan lemaknya menjadi berkurang ( Rismunandar, 1982 )
Supaya pertumbuhan dan perkembangan tanaman kacang tanah optimum serta produksinya tinggi diperlukan struktur tanah yang gembur dan subur sehingga air mudah meresap. Wolfe dan Kipps (1959) berpendapat bahwa tanah yang sesuai dengan pertumbuhan kacang tanah adalah tanah yang berpasir dan diberi perlakuan pengapuran. Pengapuran dimaksudkan untuk menghindari kondisi tanah terlalu asam. Derajat keasaman tanah yang optimum adalah pH 6.0 – ph 6.5 .
Pupuk kandang sebenarnya adalah campuran tanah dengan produk buangan dari kotoran binatang ataupun pelapukan dari tumbuhan yang mati. Sehingga pupuk kandang dapat didefinisikan sebagai semua produk buangan dari binatang peliharaan yang dapat digunakan untuk menambah hara, memperbaiki sifat fisik, dan biologi tanah. Apabila dalam memelihara ternak tersebut diberi alas seperti sekam pada ayam, jerami pada sapi, kerbau dan kuda, maka alas tersebut akan dicampur menjadi satu kesatuan dan disebut sebagai pukan pula. Beberapa petani di beberapa daerah memisahkan antara pukan padat dan cair.
a. Pupuk kandang padat
Pupuk kandang (pukan) padat yaitu kotoran ternak yang berupa padatan baik belum dikomposkan maupun sudah dikomposkan sebagai sumber hara terutama N bagi tanaman dan dapat memperbaiki sifat kimia, biologi, dan fisik tanah. Penanganan pukan padat akan sangat berbeda dengan pukan cair. Penanganan pukan padat oleh petani umumnya adalah sebagai berikut: kotoran ternak besar dikumpulkan 1-3 hari sekali pada saat pembersihan kandang dan dikumpulkan dengan cara ditumpuk di suatu tempat tertentu. Petani yang telah maju ada yang memberikan mikroba dekomposer dengan tujuan untuk mengurangi bau dan mempercepat pematangan, tetapi banyak pula yang hanya sekedar ditumpuk dan dibiarkan sampai pada waktunya digunakan ke lahan.
b. Pupuk kandang cair
Pupuk kandang (pukan) cair merupakan pukan berbentuk cair berasal dari kotoran hewan yang masih segar yang bercampur dengan urine hewan atau kotoran hewan yang dilarutkan dalam air dalam perbandingan tertentu. Umumnya urine hewan cukup banyak dan yang telah dimanfaatkan oleh petani adalah urine sapi, kerbau, kuda, babi, dan kambing. Pupuk kandang cair dibuat dari kotoran ternak yang masih segar, bisa dari kotoran kambing, domba, sapi, dan ayam. Petani pertanian organik di Kenya membuat pukan cair dari 30-50 kg kotoran hewan yang masih segar dimasukkan dalam karung goni yang terbuat dari serat kasar rami diikat kuat, ujung karung diikatkan pada sebuah tongkat sepanjang 1 m untuk menggantung karung pada drum, kemudian karung tersebut direndam dalam drum berukuran 200 l yang berisi air. Secara, berkala 3 hari sekali kotoran dalam karung diaduk dengan mengangkat dan menurunkan tongkat beserta karung. Untuk melarutkan pukan dibutuhkan waktu sekitar minggu. Pupuk kandang (pukan) yang melarut siap digunakan bila air sudah berwarna coklat gelap dan tidak berbau. Cara penggunaan pukan cair dengan disiramkan ke tanah bagian perakaran tanaman dengan takaran satu bagian pukan cair dicampur dengan satu atau dua bagian air. Ampas dari pukan cair dimanfaatkan sebagai mulsa (Matarirano, 1994).
III. BAHAN DAN METODE PERCOBAAN

A. Alat dan bahan

Alat :
– cangkul
– gembor
– tali rafia
– alat penyemprot
– timbangan
– papan nama
– alat tulis.

Bahan :
– benih kacang tanah
– urea
– TSP
– KCl

B. Pelaksanaan percobaan

1. Tanah diolah pada lapisan top soil, bersihkan rumput dan kotoran lainnya dari areal pertanaman. Bedengan dibuat dengan ukuran panjang 2,5 m x lebar 2 m dan jarak antar bedengan 0,5 m sekaligus sebagai saluran drainase ( dibuat dua bedengan ).
2. Pupuk diberikan dengan cara larikan ( dalam alur ) untuk pupuk buatan dan disebar untuk pupuk kandang.
Adapun perlakuan pupuk atau aplikasi pupuk sebagai berikut:
– P1 = tanpa diberikan pupuk kandang namun diberi pupuk SP-36 (10 gr/1 m2), KCl (5 gr/ 1 m2), dan Za (10 gr/1 m2) (pada saat tanam)
– P2 = pemberian pupuk kandang 40kg/2,5 m x 2 m dan diberi pupuk SP-36 (10 gr/1 m2), KCl (5 gr/ 1 m2), dan Za (10 gr/1 m2) (pada saat tanam)

Bedeng pertama perlakuan tanpa pupuk kandang yaitu P1 dan bedeng kedua dengan perlakuan pupuk kandang yaitu P2. Sehingga dapat disusun pada bedeng percobaan sbb :

Kelompok I Kelompok II Kelompok III Kelompok IV Kelompok V Kelompok VI

3. Dibuat jarak antar tanaman 25 cm x 10 cm sehingga jumlah populasi yang ada sekitar 200 bibit yang dapat ditanami.
4. Penyulaman.
Seminggu setelah tanam dihitung tanaman yg muncul sesuai perlakuan, tanaman yang tidak tumbuh disulam ( disusul tanam )
5. Penyiangan dan pembumbunan
Setiap minggu pada umur lebih dari satu bulan, pada saat penyiangan dilakukan terus pembumbunan.
6. Setelah tanaman tumbuh, selanjutnya dipilih enam sampel yang akan diuji pada setiap bedengnya.
7. Setiap minggu dilakukan pengamatan terhadap tanaman kacang setelah bibit ditanam mulai dari jumlah batang primer, tinggi batang dan kapan waktu berbunga. Selama proses berbunga tanaman sebaiknya jangan disiram karena akan mengganggu proses penyerbukan.

8. Panen
Pemanenan dilakukan pada saat tanaman berumur 100-120 hari dengan ciri daun telah menguning dan sebagian mulai berguguran, batang mulai kering dan polong keras dan telah berisi penuh. Pisahkan sampel dari keseluruhan populasi untuk diteliti.
9. Pada saat pemanenan, dihitung jumlah polong bernas, polong kosong dan ditimbang bobot masing – masing polong dari tanaman contoh

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Data hasil pengamatan

a. Tabel Pengamatan Pra Panen

Tabel 1. Tinggi Tanaman (cm)
( minggu ke 2 :9 Nov‘12 setelah tanam )
Bedengan T1 T2 T3 T4 T5 T6 Jlh Rata-Rata
P1 (I) 17,5 18 16,5 14 15 14,5 95,5 15,9
P2 (II) 13,5 15,8 15 17,4 13 17 91,7 15,3

Tabel 1.1 Jumlah Batang primer
(minggu ke 2 :9 Nov‘12 setelah tanam)
Bedengan T1 T2 T3 T4 T5 T6 Jlh Rata-Rata
P1 (I) 4 3 4 5 4 3 23 3,8
P2 (II) 3 4 3 5 3 3 21 3,5

Tabel 2. Tinggi Tanaman (cm)
( minggu ke 3 :16 Nov’12 setelah tanam )
Bedengan T1 T2 T3 T4 T5 T6 Jlh Rata-Rata
P1 (I) 28,5 25,5 26 19,2 21,6 21,4 142,2 23,7
P2 (II) 20,5 24,5 28 22,8 24 19,6 139,4 23,2

Tabel 2.1 Jumlah batang primer
( minggu ke 3 :16 Nov’12 setelah tanam )
(waktu berbunga)
Bedengan T1 T2 T3 T4 T5 T6 Jlh Rata-Rata
P1 (I) 7 7 8 8 6 7 43 7,2
P2 (II) 6 7 7 6 7 7 40 6,7

Tabel 3. Tinggi Tanaman (cm)
(minggu ke 4 :23 Nov’12 setelah tanam )
Bedengan T1 T2 T3 T4 T5 T6 Jlh Rata-Rata
P1 (I) 36,6 40,5 41 34 38 36,5 226,6 37,8
P2 (II) 36 42 39,5 33,5 41 30,5 222,5 37,1

Tabel 3.1 Jumlah batang primer
(minggu ke 4 :23 Nov’12 setelah tanam )
Bedengan T1 T2 T3 T4 T5 T6 Jlh Rata-Rata
P1 (I) 10 10 10 10 9 10 59 9,8
P2 (II) 9 10 10 8 9 10 56 9,3

Tabel 4. Tinggi tanaman (cm)
(minggu ke 5 : 7 Des’12 setelah tanam)
Bedengan T1 T2 T3 T4 T5 T6 Jlh Rata-Rata
P1 (I) 45 51 55 43 40,7 46 280,7 46,8
P2 (II) 46,1 46,7 34,4 47,4 49,6 43,5 267,7 44,6

Tabel 4.1 Jumlah batang Primer
(Minggu ke 5 :7 Des’12 setelah tanam)
Bedengan T1 T2 T3 T4 T5 T6 Jlh Rata-Rata
P1 (I) 10 9 10 10 10 10 59 9,8
P2 (II) 10 10 9 9 10 10 58 9,7

Tabel 5. Tinggi tanaman (cm)
(minggu ke 6 : 14 Des’12 setelah tanam)
Bedengan T1 T2 T3 T4 T5 T6 Jlh Rata-Rata
P1 (I) 60 62 58,5 54,3 61 57,5 353,3 58,9
P2 (II) 52,5 51 50 68 60 56,5 338 56,3

Tabel 5.1 Jumlah batang primer
(minggu ke 6 : 14 Des’12 setelah tanam)
Bedengan T1 T2 T3 T4 T5 T6 Jlh Rata-Rata
P1 (I) 10 10 10 9 10 10 59 9,8
P2 (II) 9 10 10 11 9 10 59 9,8

Tabel 6 Tinggi tanaman (cm)
(minggu ke 7 : 21 Des’12 setelah tanam)
Bedengan T1 T2 T3 T4 T5 T6 Jlh Rata-Rata
P1 (I) 66 63,5 74 78,1 65,6 78,7 425,9 71
P2 (II) 56 76 53,8 68,4 62,3 61,9 378,4 63,1

Tabel 6.1 Jumlah batang primer
(minggu ke 7 : 21 Des’12 setelah tanam)
Bedengan T1 T2 T3 T4 T5 T6 Jlh Rata-Rata
P1 (I) 10 10 10 9 10 10 59 9,8
P2 (II) 9 10 10 11 9 10 59 9,8

Tabel 7 Tinggi tanaman (cm)
(minggu ke 8 : 28 Des’12 setelah tanam)
Bedengan T1 T2 T3 T4 T5 T6 Jlh Rata-Rata
P1 (I) 67 65,5 75 79 67,5 79 433 72,1
P2 (II) 60 77 55,3 69,2 64,6 62,7 388,8 64,8

Tabel 7.1 Jumlah batang primer
(minggu ke 8 : 28 Des’12 setelah tanam)
Bedengan T1 T2 T3 T4 T5 T6 Jlh Rata-Rata
P1 (I) 10 10 10 9 10 10 59 9,8
P2 (II) 9 10 10 11 9 10 59 9,8

b. Pengamatan Saat Panen ( Kacang Tanah ) (4 Januari 2013)

Tabel 8. Jumlah Polong
Bedengan T1 T2 T3 T4 T5 T6 Jlh Rata-Rata
P1 (I) 21 33 18 16 16 17 121 20,2
P2 (II) 44 55 25 54 40 56 274 45,7

Tabel 9. Berat sampel dengan kulit (gr)
Bedengan T1 T2 T3 T4 T5 T6 Jlh Rata-Rata
P1 (I) 23,8 37,7 20 28,5 14,2 20,7 144,9 24,1
P2 (II) 87,2 88,8 59,3 85,6 48,1 71,6 440,6 73,4

Tabel 10. Berat sampel tanpa kulit (gr)
Bedengan T1 T2 T3 T4 T5 T6 Jlh Rata-Rata
P1 (I) 10,9 13 5,7 14,4 7,1 6,7 57,8 9,6
P2 (II) 30,4 31,3 15,3 30,6 20,1 29 156,7 26,1

Bedengan Jumlah biji
Pupuk kompos 359/
100 gr
Tanpa pupuk kompos 207/ 57,8 gr
Tabel 11. Jumlah biji

B. Pembahasan
Pemupukan tanah dengan pupuk kandang dapat mengakibatkan tanah menjadi baik dengan daya mengikat airnya menjadi lebih tinggi. Pupuk kandang juga berpengaruh terhadap keadaan fisik, kimia dan biologis tanah. Menurut Buckman dan Brady (1982), mengatakan bahwa pupuk kandang merupakan lapisan yang berada di permukaan tanah mempunyai sifat yang dapat mengikat air permukaan empat sampai enam kali beratnya sendiri dan air merupakan kebutuhan yang paling penting untuk melarutkan unsur hara di dalam tanah dan dimanfaatkan oleh tanaman.
Fungsi pupuk kandang antara lain mampu mengembangkan beberapa unsur hara seperti fosfor, nitrogen, sulfur, kation dan dapat melepaskan unsur P dari oksidasi Fe tanah dan dapat membentuk senyawa kompleks dengan unsur makro dan mikro sehingga tanaman dapat mengurangi proses pencucian dari unsur yang dikandungnya (Suwardjono, 2003).
Selain itu peranan penting dari pupuk kandang terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman adalah sebagai berikut :
a) Pupuk kandang mengandung zat seperti N(0,97), P(0,69), K(1,66) .
b) Mampu melonggarkan susunan tanah terutama jenis tanah liat sehingga udara mudah menembus kedalam, dengan kata lain dapat memperbaiki aerase tanah.
c) Meningkatkan daya serap tanah terhadap air, sehingga ketersediaanair yang dibutuhkan tanaman memadai..
d) Mendorong kehidupan dan perkembangan jasad renik tanah yang berguna untuk mengubah zat – zat makanan di dalam tanah.
Jarak tanaman juga berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman kacang tanah. Dimana pengaruhnya akan meningkatkan tinggi tanaman dan jumlah cabang per tanaman namun tidak berpengaruh secara nyata meningkatkan bobot polong per tanaman.
Pada minggu pertama juga dilakukan penebaran pupuk kompos yang disebar secara merata pada bedeng P2. Pada minggu kedua tidak terlihat perbedaan yang begitu nyata. Pengamatan potensi tumbuh ini, juga diamati pada lubang tanam mana yang belum tumbuh, sehingga disulam kembali lubang tanam dan diisi benih sesuai kebutuhan per lubang. Namun, tidak jarang pada tanaman kacang tanah ini masih ada alur yang lubang tanamnya tidak tumbuh sama sekali ( terjadi pada bedeng P2 ). Hal ini bisa dikarenakan pada saat penanaman benih ditancapkan terlalu dalam sehingga pada saat tumbuh tidak dapat muncul dipermukaan dan pupuk kompos yang digunakan masih terlalu panas sehingga tidak cocok untuk pertumbuhan kacang tanah. Pada fase minggu – minggu berikutnya, perbedaan ini mulai terlihat pada bentuk fisiologis kacang tanah yang memiliki perbedaan pada tinggi tanaman dan jumlah batang primer . Pada minggu ketiga setelah tanam, perbandingan tinggi tanaman pada setiap bedeng belum menunjukkan perbedaan rata-rata tinggi tanaman yang terlalu besar perbandingannya. Rata-rata tinggi tanaman pada bedeng P1 adalah 23,7 dan P2 adalah 23,2. Namun tinggi tanaman pada dua bedeng ini tidak selalu menunjukkan bahwa tinggi tanaman pada bedeng P1 memiliki tinggi yang lebih dominan dari minggu tanam ke-4, ke-5, dan ke-6 dan selanjutnya.
Pengaruh dari aplikasi pupuk terhadap pertumbuhan kacang tanah pada pengamatan ketika panen juga mulai memperlihatkan perbedaan yang berhubungan dengan jumlah polong yang diberi pupuk kompos dan tidak diberi pupuk kompos.
Saat perlakuan panen kacang, dilihat perbedaan jumlah berat dari bedeng tersebut. Dari data yang telah diperoleh, perlakuan P2 untuk jumlah polong lebih besar ( 274 polong / 6 sampel) dari perlakuan P1 (121 polong / 6 sampel). Berat sampel dengan kulit terlihat juga perbedaan yang besar yaitu 440,6 gr (P2) dan 144,9 gr (P1). Berat biji tanpa kulit pun menunjukkan perbedaan yang besar yaitu 156,7 (P2) dan 57,8 gr (P1).
Pada praktikum yang kami lakukan, kami mendapatkan masalah Dimana lahan yang kami tanami terpaksa harus di panen lebih awal karena area lahan kacang tanah rusak di ganggu oleh hama (babi atau monyet) yang menyebabkan hasil yang kami dapat tidak sesuai dengan yang kami harapkan.

V. PENUTUP

A.Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari percobaan yang telah dilakukan yaitu:
1. Perlakuan kacang pada P2 memiliki jumlah polong yang lebih banyak dari pada perlakuan kacang P1.
2. Pengaruh dari penggunaan pupuk terhadap perlakuan P1 dan perlakuan P2 ini tampak pada hasil akhir (pada saat panen) yaitu menunjukkan perbedaan dalam berat polong .
3. Tinggi tanaman pada perlakuan P1 dan perlakuan P2 tidak terlalu menunjukkan perbedaan yang terlalu signifikan pada minggu 1, 2 dan 3 namun pada minggu selanjutnya menunjukkan perbedaan dimana tanaman P1 lebih tinggi dari P2
4. Berat sampel tanpa kulit menunjukkan perbedaan yang besar dimana seluruh sampel P1 lebih kecil (57,8 gr) dari seluruh sampel P2 (156,7 gr) dan berat biji dengan kulit seluruh sampel P1 lebih kecil juga (144,9 gr) dari berat biji dengan kulit sampel P2 (440,6 gr)
5. Jumlah biji yang memakai pupuk kompos per 100 gram adalah 359 biji sedangkan jumlah biji yang tanpa memakai pupuk kompos 207/ 57,8 gr

LAMPIRAN GAMBAR

DAFTAR PUSTAKA
http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/15433/A04AHA.pdf?sequence=1 diakses pada tanggal 12 Januari 2013 pada pukul 09.45

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Masturbasi

MASTURBASI

Mastrubasi adalah upaya menyalurkan rangsangan seksual pada diri sendiri untuk mendapatkan kepuasan seksual atau orgasme.

John White dalam buku Menebu Eros merumuskan ,” manipulasi ragawi untuk mengejar orgasme”

BANYAK YANG MELAKUKAN

Sangat banyak orang yang melaukan masturbasi. Termasuk diri saya. Pelakunya meliputi pria dan wanita. Sekalipun menurut banyak orang, lebih banyak pria yang melakukan masturbasi , namun jumlah wanita yang melakukan masturbasi juga semakin meningkat.

Tindakan ini bukan hanya dilakukan oleh para remaja yang sedang mengalami puber, tetapi juga orang-orang dewasa hingga tua. Dan bukan hanya yang melajang , namun juga orang-orang yang berada dalam ikatan pernikahan.

Jadi, kalau anda juga melakukannya, anda tidak sendirian.

RASA MALU

Dalam waktu-waktu yang terakhir, banyak orang yagn mengatakan bahwa masturbasi adalah hal yang normal. Sebab di dalamnya tidak ada bahaya yang mengancam kesehatan fisik dan tidak ada kerugian sosial.

Akan tetapi tidak bisa dipungkiri banyak orang merasa malu dengan aktivitas mastrubasi yang dilakukan. Misalkan seorang teman bertanya kepada teman lainnya, “Gimana tadi malam dengan istri , bro?” teman akan menjawab, ” Sip menyenangkan ” Tetapi bagaimana kalau teman tersebut menanyakan demikian ” Bagaimana masturbasi tadi malam bro?”, rasanya teman lain tadi akan malu untuk memabgikannya.

Memang ada sekelompok orang yagn melakukan mastrubasi secara terbuka, namun itu bukan kelompok kehidupan yang umum.

Orang merasa malu, karena menyadari bahwa bermasturbasi bukanlah aktivitas seksual yang normal. Dan karenanya orang akan enggan juga untuk membagikan kepada orang lain aktivitas itu. Dalam perkumpulan, orang bisa saling membagikan aktivitas seksual mereka dengan pasangan, dan mungkin saling membagikan bagaimana meningkatkan relasi seksual itu. Akan tetapi orang akan sulit saling membagikan aktivitas masturbasi mereka , apalagi membagikan dengan tujuan untuk menemukan cara masturbasi yagn lebih memuaskan.

MENGAPA MASTURBASI TIDAK TEPAT

Masturbasi memusatkan pada diri sendiri.

Masturbasi dilakukan untuk mencari kesenangan sendiri. Sementara seks adalah relasi yang bertujuan untuk mengungkapkan perhatian dan kasih kepada orang lain. Seks bukan senata-mata untuk mendapatkan orgasme, tetapi untuk memuaskan pasangan , untuk mengenal pasangan kita, dan untuk menunjukkan apa adanya diri kita kepada pasangan.

karena itu upaya untuk mendapatkan kesenangan untuk diri sendiri adalah satu tindakah yang tidak tepat.

Mastubasi lorong menuju relasi seksual tidak sehat.

Ketika orang bermasturbasi biasanya dia berfantasi melakukan hubungan dengan seseorang. Kalau seseorang itu nyata, maka dia akan terus memikirkan orang tersebut. Dan setiap kali bertemu dengan orang itu dia akan mudah sekali untuk menginginkan melakukan hubungan dengan orang tersebut.

Apabila seorang mahasiswi berfanstasi melakukan hubungan dengan pacarnya, maka hasrat untuk melakukan secara nyata akan menggebu-gebu.

Selain itu, melakukan masturbasi akan membuat mudah untuk mencoba berhubungan dengan siapapun yang mungkin. Bahkan tidak menutup kemungkinan akhirnay menyalurkan dengan cara membayar.

Masturbasi membuat tubuh digunakan untuk maksud yang keliru

Tuhan mendesain tubuh kita untuk kemuliaanNya, namun dengan bermasturbasi kita menggunakan tubuh untuk sekedar mencari kesenangan.

Masturbasi mengasingkan diri dari pasangan

Seorang suami dan isteri yang bermasturbasi akan menjauhkan dirinya dari pasangannya, dia kan asyik dengan dirinya sendiri. Dan jika masturbasi itu membawa kepada khayalan yang bermacam-macam, maka makin jauhlah dia dari pasangannya. Lama kelamaan pasangannya bisa menjadi sosok yang asing. Rencana Tuhan bahwa aktivitas seksual adalah untuk mengenal pasangan lebih dalam akan runtuh.

Mastrubasi itu membelenggu

Ada orang yang mengatakan bahwa dia bisa berhenti kapan saja dalam bermastrubasi. Namun lebih banyak orang yang tidak mampu menghentikan aktivitas itu. Orang tenggelam dalam dorongan untuk melakukan itu terus menerus, sekalipun mungkin dengan frekuensi yang berbeda-beda.

APAKAH ADA PERTOLONGAN?

Saya mengenal masturbasi sejak masih kecil. Saya lupa tepatnya usia saya waktu itu. Akan tetapi itu dimulai ketika saya memanjat pohon dan menikmati keenakan ketika alat kelamin saya menggesek-gesek batang pohon tersebut. Saya belum mengenal apa itu masturbasi. Saya “menemukan” keenakan itu secara tidak sengaja. Dan karena enak itu saya sering mengulanginya.

Dan kegiatan menggesek alat kelamin itu berpindah ke tempat tidur. Dan demikianlah seterusnya menjadi kebiasaan sehari-hari. Tidak tahu kapan juga, aktivitas itu kemudian dilakukan dengan berfantasi.

Dengan ditambah aktivitas membaca buku-buku stensilan ( istilah buku porno waktu itu ), fantasi ketika bermasturbasi makin hebat.

Saya merasa bersalah dengan aktivitas tersebut. Saya ingin berhenti, namun tidak sanggup. Saya juga tidak pernah membicarakan itu dngan teman-teman, sekalipun banyak teman sering saling ledek dengan istilah-istilah mastubasi.( Misal menggunakan istilah “nyabun ” ), dan dengan demikian saya mengerti bahwa banyak teman juga melakukannya.

Saya menyimpan kesusahan itu sendiri.

Pertolongan itu datang ketika pada saat liburan naik kelas 3 SMA. Dalam liburan itu saya mengikuti acara satu perkumpulan siswa-siswa, dan di dalamnya saya menemukan kasih Tuhan. Dalam acara itu saya mendapat pengertian bahwa Tuhan Allah sangat mengasihi saya, dan bahkan Ia datang ke dunia untuk mati bagi saya. Sebagai manusia saya telah berdosa, dan karenanya tenggelam dalam dosa itu, termasuk di antaranya saya bermasturbasi.

SAya ditolong mengerti bahwa jika saya mau menerima Tuhan Allah yang sudah mati dan kemudian bangkit itu maka saya mendapatkan pengampunan dosa, kemenangan dari dosa, dan kepastian keselamatan.

Tanggal 22 juni 1982 saya berlutut dan berdoa ” Tuhan Yesus, saya orang yagn berdosa, saya mati secara rohani. Saya percaya Engkau sudah mati di atas kayu salib untuk menggantikan saya dan untuk melepaskan sy dari dosa. Hari ini saya membuka hati saya dan mengundang Tuhan Yesus masuk dalam hati saya sebagai Tuhan dan juruselamat pribadi saya.. Terima kasih Tuhan . Amin’

Tidak terjadi apa-apa setelah berdoa, akan tetapi satu keyakinan baru muncl. Saya telah diampuni dan saya telah dilepaskan dan diberi keselamatan. Saya pulang dan saya berkemenangan atas kebiasaan masturbasi. Satu anugerah yang besar.

Apakah tidak pernah gagal? Tentu pernah, tapi bukan lagi kebiasaan seperti dulu. Tapi setelah beberapa kali kegagalan, lalu merdeka seterusnya.

MENGAPA SETELAH MENERIMA TUHAN MASIH GAGAL?

Tidak sedikit yang berseru, ” Saya telah menerima Tuhan, tapi saya masih gagal. Saya masih bermastrubasi. bagaimana saya bisa lepas?”

Jawabannya sama : Tuhan sanggup menolong. Namun Tuhan menolong dengan cara yang khas.

1. Terus doakan hal tersebut. Minta Tuhan melepaskan oleh kuasa dan anugerahNya.

2. Pastika sumber-sumber perncobaan telah dibuang. Gambar, buku, film porno telah ditiadakan.

3. Tunggu satu waktu Tuhan akan mengajar secara pribadi bagaiman itu akan lepas, setelah anda tekun mendoakannya.

4. Kalau sudah tekun tapi belum lepas, mungkin Tuhan sedang fokus kepada bagian “penyakit dosa” lain yang sedang dibersihkannya.

5. Baik, kalau membagikan kepada teman atau pemimpin rohani untuk pergumulan itu.

Seorang mahasisiwi memiliki kebiasaan itu, hampir tiap malam memeluk guling supaya orgasme. Dia merasa malu, namun dia mau membagikan itu kepada pemimpin rohaninya. Lalu bersama-sama membawa kepada Tuhan dan mulai mengambil langkah-langkah yang perlu.

Setelah beberapa waktu, Tuhan berbicara kepadanya dan sejak itu dia melepaskan kebiasaan itu.

jadi jika ada yang sudah menerima Tuhan masih belum bebas, mari tekun membawa kepada Tuhan, pada waktunya Tuhan akan melepaskannya.

Tulisan ini banyak diambil dari Buku MENEBUS EROS, John White, terbitan PPA ( Persekutuan Pembaca Alkitab

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Konsumen Hasil-Hasil Pertanian

“Tugas Pemasaran Agribisnis”
Resume Bab 3

Dosen: Ir. Yanuar Fitri M.Si.

Disusun oleh :
Nama : Hariono Sianturi
Nim : D1B011016
Kelas : Agribisnis D ‘Reguler’

Agribisnis
Fakultas Pertanian
Universitas Jambi
2013

Konsumen Hasil-Hasil Pertanian

Analisa konsumen : Analisa kuantitatif dengan teori kegunaan dan kurva indiferens

Konsumen ialah orang atau badan atau lembaga yang memakai atau yang memakai atau yang menggunakan barang dan jasa. Jadi konsumen hasil-hasil pertanian ialah orang atau badan atau lembaga yang memakai atau yang memakai atau yang menggunakan hasil-hasil pertanian yang dihasilkan oleh petani produsen atau pengusaha pertanian. Tanpa konsumen berarti tidak perlu ada barang-barang yang diproduksikan dan sebaliknya tanpa produsen tidak mungkin ada hasil atau barang yang dapat dikonsumsi. Si A datang kepasar dengan maksud membeli beras untuk dimakan sedangkan pabrik ban X membutuhkan dan membeli lateks untuk bahan baku pembuatan ban. Si A dan X sama-sama disebut konsumen namun perbedaannya terletak pada tujuan pengunaan dan pemakaian dari barang yang dibelinya. Si A semata-mata menggunakan hanya sebagai bahan makanan sedang pabrik X masih mempunyai tujuan lain yakni menghasilkan ban yang dijual kepada konsumen akhir.
Semua kegiatan yang ada dalam tataniaga adalah bertujuan menggerakkan benda dan barang pada konsumen. Jenis barang atau produk yang dihasilkan haruslah sesuai dengan selera dan preferensi konsumen dari satu tempat ketempat yang lain atau dari waktu-kewaktu. Keinginan dan kebutuhan konsumen terletak pada kenyataannya berbeda-beda. Perbedaan itu terletak pada perbedaan yang berupa : Perbedaan pendidikan, perbedaan umur, perbedaan jenis kelamin, perbedaan pekerjaan, perbedaan tingkat pendapatan dan perbedaan keadaan alami. Secara hipotesis guna sesuatu benda atau barang bagi konsumen pada suatu saat akan mencapai maksimum dan setelah itu akan menurun, tergantung dari jumlah benda atau barang yang dikonsumsinya. Jadi besarnya kegunaan mempunyai hubungan dengan jumlah benda atau barang yang dikonsumsi atau dengan kata lain guna adalah fungsi dari jumlah barang dikonsumsi dan ini dapat ditulis sebagai berikut:
G = f (x), dimana G adalah guna dan X adalah jumlah barang
atau benda yang dikonsumsi.

Seorang konsumen yang makan nasi sepiring memperoleh tambahan kegunaan dari nasi itu lebih besar dibanding setelah ia memakan dua atau tiga piring. Seorang konsumen yang membeli 10 buah mangga merasakan kegunaan yang besar waktu ia makan sebuah mangga. Tapi setelah ia makan 5 buah mangga ia merasa kegunaannya telah mencapai maksimum. Jika ia memakan 6 atau 7 buah mangga, ia tidak akan merasakan lagi kegunaannya seperti ia memakan 5 buah mangga. Apabila kegunaan mangga ini diukur secara Kardinal dan dihubungkan dengan jumlahnya yang dimakan, maka dapatlah di gambarkan secara berikut:

Apabila diasumsikan bahwa setiap konsumen yang membeli barang adalah bertujuan untuk memaksimumkan kegunaan maka persoalannya adalah bagaimana menggunakan atau menentukan jumlah barang yang akan dikonsumsikannya agar tercapai kepuasan atau kegunaan yang maksimum. Syaratnya ialah harus diketahui berapa besarnya pendapatan konsumen yang tersedia untuk membeli suatu barang pada harga tertentu. Kalau pendapatan si A yang tersedia untuk membeli mangga adalah P, jumlah mangga adalah Xm dan harga mangga persatuan Hm maka untuk mencapai kepuasaan maksimum pendapatan si A harus dibatasi:
P = Xm . Hm

Jika si A selain membeli mangga, ia membeli rambutan untuk mencapai kepuasan maksimum, pendapatan si A dibatasi :
P = Xm . Hm + Xr . Hr
Dimana : Xr = Jumlah rambutan
Hr = Harga satuan rambutan

Dengan bertitik tolak dari keputusan konsumen A yang membeli dua macam barang maka dapat ditentukan fungsi kegunaan atas benda tersebut dan kemudian dapat ditentukan fungsi kegunaan atas benda tersebut dan kemudian dapat ditentukan fungsi tujuan (objective Function) yaitu suatu fungsi yang dibuat untuk mencapai kepuasan maksimum. Sekarang fungsi kegunaan mangga dan rambutan terhadap konsumen A adalah :
G = f ( Xm , Xr )

dan Fungsi tujuan yang dimaksud adalah :
Max. : L = f ( Xm , Xr ) + λ (P – Xm . Hm – Xr . Hr)
∂L = ∂f ( Xm , Xr ) λHm = 0
∂Xm ∂Xm
¬ = ∂G λHm = 0
∂Xm
∂L = ∂f ( Xm , Xr ) λHr = 0
∂Xr ∂Xr
¬ = ∂G λHr = 0
∂Xr

∂L = P – Xm Hm – Xr Hr = 0
∂λ
∂G disebut Guna Marjinal terhadap Xm ( GMXm )
∂Xm

∂G disebut Guna Marjinal terhadap Xr ( GM Xr )
∂Xr

Terhadap pedagang pengecer implikasi dari perhitungan-perhitungan seperti diatas adalah berarti ia dapat membuat rencana jumlah penjualan barang, dengan mengetahui terlebih dahulu fungsi kegunaan dari masing-masing konsumen dan langganannya. Besar kecilnya jumlah barang – barang yang diminta atau yang dibeli oleh konsumen tergantung dari tinggi rendahnya harga barang yang bersangkutan atau dengan kata lain jumlah barang yang diminta adalah fungsi dari harga dan ini dapat ditulis sebagai fungsi permintaan : X = f (Hx) dimana X adalah jumlah barang yang diminta dan Hx adalah harga dari barang tersebut. Apabila hubungan X dan Hx digambarkan dalam bentuk grafik.

Permintaan Pasar adalah jumlah dari permintaan terhadap suatu barang dari seluruh konsumen yang membeli barang tersebut dipasar. Atau dapat ditulis:
X pasar=∑_(k=1)^n▒〖 x konsumen individu〗
( 1 ………. n adalah jumlah konsumen dari 1 sampai n )
Dengan demikian kurva permintaan pasar adalah jumlah dari kurva-kurva permintaan setiap konsumen yang berbelanja. Pengukuran kegunaan suatu barang secara cardinal merupakan suatu pekerjaan yang sulit, karena hal ini tidak bisa dilakukan maka pengukuran dapat dilakukan secara ordinal yakni suatu pengukuran yang bersifat menentukan tingkat kegunaan suatu benda. Apabila dilakukan secara ordinal maka kepuasan maksimum dari 2 barang yang dikonsumsi dapat diketahui dengan menggunakan kurva indiferens asalkan konsumen dapat memberikan suatu pernyataan suatu tingkat kepuasan dari berbagai kombinasi barang yang dikonsumsinya. Kurva indiferens adalah suatu kurva dimana didalamnya terletak titik-titik kombinasi dan jumlah macam barang yang dikonsumsi oleh konsumen dengan tingkat Kepuasan

Jika diperhatikan kurva indiferens diatas , ternyata kepuasan konsumen ditik P sama dengan Q dan R sama dengan S. Atau dengan kata lain kepuasan yang diperoleh konsumen pada KI1 lebih kecil dibanding dengan KI2. Berubahnya atau bergesernya kurva indiferens seseorang konsumen tergantung dari perubahan dari selera dan preferensinya. Jadi kurva indiferens adalah fungsi dari jumlah dua barang yang dikombinasi dan kurva indiferens ini hanya diukur secara ordinal. Atau hal ini dapat dituliskan sebagai berikut:
KI = f ( X, Y )
dimana X dan Y adalah jumlah barang yg dikonsumsi
Yang perlu diketahui adalah berapa besarnya Daya Subtitusi Marjinal (DSM) dari suatu barang terhadap barang lain. Jika barang yg dikombinasikan oleh seorang konsumen adalah barang-barang X dan Y maka DSMxy = |- dy/dx| artinya daya subtitusi marjinal X terhadap Y ialah jumlah satuan barang Y yang dikurangi untuk menambah jumlah satu-satuan barang X dengan kepuasan yg tidak berubah. Untuk mencapai kepuasan maksimum haruslah:
dY. HY = dX. HX
dy/(dx )= Hx/Hy
DSMXY = Hx/Hy= GMx/GMy
Analisa Konsumen : Tingkah laku dan motivasi konsumen dengan analisa kuantitatif

Apabila kita berkesempatan berada disuatu pasar, dan memperhatikan beberapa pembeli atau konsumen maka kita akan melihat adanya kelakuan-kelakuan yang berbeda dari berbagai konsumen didalam mengambil keputusan untuk membeli suatu barang yang mereka inginkan atau dibutuhkannya. Perbedaan-perbedaannya akibat adanya motif-motif pembelian yang berbeda diantara mereka. Tingkah laku adalah sebagai suatu tujuan dan ikthisar dari konsumen untuk membeli atau memiliki sesuatu benda atau barang. Motivasi turut mempengaruhi keputusan-keputusan seorang konsumen dalam hal menentukan jenis barang yang akan dibeli. waktu pembelian yang tepat, tempat yang lebih mudah dijangkau, jumlah yang akan dibeli dan harga yang dapat memuaskannya. Motif konsumen dapat dibedakan atas beberapa jenis, Yakni :
Motif barang/ produk (product motives)
Pembelian yang dilakukan dengan motif produkialah pembelian yang terjadi karena ia lebih suka sesuatu barang dibanding barang lain. Mungkin preferensi itu terjadi pada suatu roduk karena konsumen yang bersangkutan menganggap kualitasnya lebih baik dibanding barang lain atau karena kebiasaan yang sukar diubah karena telah cocok dengan seleranya.

Motif patronase (Patronage motives)
Motif pembelian seperti ini adalah pembelian yang dilakukan oleh konsumen hanya pada tempat-tempat eceran atau toko-toko yang tertentu saja.

Motif emosionil (emotional motives)
Motif pembelian seperti ini adalah suatu pembelian yang didasarkan atas dorongan nafsu dan bukan atas dasar kesadaran diri sendiri. Motif- motif seperti ini misalnya:
Motif Emulasi (karena ingin menandingi)
Motif Individualitas
Motif Konformitas (Ingin menyesuaikan diri)
Motif ambisi
Motif keahlian
Motif prestasi social
Motif memuaskan selera
Motif menyenangkan cita raa
Motif Menjamin suatu kenikmatan atas dirinya
Motif meringankan diri dari pekerjaan-pekerjaan berat
Motif menjaga diri dari bahaya
Motif kesenangan hiburan dan rekreasi
Motif Pengungkapan selera artistic
Motif naluri romantic

Motif Rasionil (rational motives)
Motif pembelian rasionil adalah pembelian yang didasarkan atas dorongan yang timbul yang disetujui oleh diri sendiri atau dorongan yang timbul secara sadar. Motif ini ditandai dengan motif-motif sbb:
Membeli sesuatu yang mudah terpakai (handiness)
Penghematan dalam hal pembelian dan penggunaan produk (Economy in purchase)
Membeli sesuatu barang karena barang itu efisien dalam penggunaannya (Efficiency in operation or in use)
Membeli sesuatu barang karena mutunya dapat dipercaya (Dependability in quality)
Membeli sesuatu barang karena mempunyai daya tahan (Durability)
Membeli sesuatu barang karena penggunaan barang itu menimbulkan penghematan (Economy in use)
Membeli sesuatu barang karena ia yakin bahwa barang itu tidak akan merugikan dan mengecewakan dalam pemakaiannya (Dependability in use)
Membeli sesuatu barang karena ia mengaharapkan akan menambah pendapatan (Enhancement of earnings)
Membeli sesuatu barang karena barang itu dapat berfungsi sebagai alat bantu (Reliability of auxiliary service)

Analisa Konsumen : Populasi yang besar

Penyebaran Penduduk dan pendapatannya
Penjualan sesuatu barang atau benda selalu harus disesuaikan dengan keadaan penyebaran Penduduk dan pendapatannya pada setiap daerah. Dengan mengetahuinya maka untuk daerah yang penduduknya jarang dengan pendapatan yang rendah permintaan sesuatu barang adalah relative kecil dengan jenis-jenis barang yang terbatas. sebaliknya pada daerah-daerah yang padat dengan pendapatan perkapita yang tinggi jumlah dan jenis barang yang diminta akan lebih banyak pula.

Pertambahan penduduk
Meningkatnya permintaan suatu barang maka berarti segala sesuatu yang bersifat sebagai alat, langsung ataupun idak langsung didalam melancarkan perpindahan brang dari titik produksi ketitik konsumsi juga harus turut berubah. JIka pertambahan penduduk tidak dapat diimbangi oleh pertambahan jumlah produksi harga akan naik karena kurva permintaan bergeser kekanan. Keadaan ini dapat dilihat sebagai berikut:

Harga(Rp) D2
D1 S D1 = Kurva permintaan sebelum
adanya pertambahan penduduk
D2 = Kurva permintaan setelah adanya
pertambahan penduduk

H2

H1

Jumlah barang
P1 P2 persatuan waktu

Seimbangnya jumlah produksi dengan jumlah konsumsi belumlah berarti adanya suatu kepastian yang dapat menjamin terpecahkannya masalah kebutuhan konsumen. Bertanmbahnya biaya marjinal berarti kurva penawaran akan bergeser kekiri, sehingga harga menjadi lebih tinggi dari harga sebelumnya. keadaan ini dapat dilihat dalam grafik berikut

Harga (Rp) S2

S1
D
S2 = Kurva penawara dengan biaya tataniaga
yang tinggi
S1 = Kurva penawaran sebelum meningkatnya
biaya tataniaga
H2

H1

Jumlah barang persatuan waktu

P2 P1

Urbanisasi
Perpindahan penduduk desa kekota mengakibatkan pula adanya pengaruh dalam system tataniaga. Jika perpindahan penduduk berjalan dengan cepat dan dalam jumlah yang banyak tentunya akan merubah jumlah permintaan pasar menjadi lebih besar.
Daerah yang berbeda
Adanya kebiasaan-kebiasaan yang telah melekat terhadap konsumen pada suatu daerah menimbulkan adanya preferensi yang berbeda diantara beberapa daerah. Dengan demikian pemasaran suatu barang haruslah disesuaikan dengan preferensi dan selera dari masing-masing daerah
Agama dan kepercayaan yang berbeda
Didalam rencana memasarkan suatu barang terlebih dahulu harus dipikirkan apakah disuatu daerah barang itu dapat diterima dengan baik karena tidak bertentangan oleh kepercayaan dan agama dari konsumen setempat.
Efek daripada hari raya
Menjelang hari raya akan banyak barang kebutuhan yang diperlukan. Maka dari itu stok barang haruslah lebih banyak dari hari-hari lainnya.
Efek daripada perubahan pola kehidupan
Pendapatan konsumen yang meningkat atau keadaan yang lebih baik akan merubah pola kehidupan konsumen. Trend perubahan pola kehiudpan konsumen secara keseluruhan pada suatu Negara searah dengan perkembangan ekonomi dan kemajuan ilmu pengetahuan dari Negara yang bersangkutan.
Perubahan konsumsi dari waktu kewaktu
Perkembangan ekonomi yang semakin meningkat dari waktu kewaktu akan menimbulkan pula trend perubahan-perubahan konsumsi dari penduduk suatu Negara.

Analisa Konsumen : Analisa pendapatan
Banyak faktor-faktor yang mempengaruhi cara dan jumlah pembelian oleh konsu,en terhadap sesuatu barang yang telah diuraikan, tetapi karena agaknya yang paling besar pengaruhnya adalah faktor pendapatan dan sifatnya adalah berlaku umum bagi setiap konsumen. Perlu diingatkan bahwa tidak semuanya pendapatan seorang konsumen dapat digunakan membeli sesuatu barang. Meningkatnya pendapatan seorang konsumen berarti meningkatnya anggaran yang tersedia untuk barang kebutuhannya demikian pula sebaliknya. Kemudian perlu diketahui pula bahwa tidak selamanya kenaikan pendapatan mengakibatkan jumlah pembelian barang bertambah dari seorang konsumen. Barang-barang konsumsi dapat dibagi atas 3 jenis berdasarkan sifatnya yakni :
Barang Normal : Barang-barang konsumsi yang bertambah pembeliannya atau pemakaiannya jika pendapatan konsumen bertambah demikian pula sebaliknya.
Barang Netral : Barang-barang konsumsi yang tetap jumlah pembelian dan pemakaiannya meskipun pendapatan seorang konsumen bertambah atau berkurang.
Barang Tuna NIlai : Barang-barang konsumsi yang jumlah pembelian dan pemakaiannya justru berkurang akibat bertambahnya pendapatan konsumen.

Elastisitas permintaan konsumen
Yang dimaksud denga elastisitas permintaan konsumen terhadap suatu barang ialah tingkat perubahan jumlah barang yang diminta akibat terjadinya perubahan-perubahan harga dari barang tersebut. Dapat juga dikatakan bahwa elatisitas permintaan secara kuantitatif adalah perubahan relative jumlah barang yang diminta dibagi dengan perubahan relative dari harga barang tersebut.
Ep = dX/dH . H/X dimana
dX = Perubahan jumlah barang yang dibeli
dH = Perubahan harga barang

Rumus ini dapat dipakai apabila kita menggunakan data yang kontinu atau hub.kuantitatif dari fungsi permintaan telah diketahui JIka kita hanya ingin menggunakan data yang tidak kontinu maka rumus diatas dapat diubah menjadi
Ep = ΔX/ΔH . H/X
Dimana : ΔX = Perubahan rata-rata jumlah barang yang dibeli
ΔH = Perubahan rata-rata harga barang
Jika data sangat terbatas sehingga kita hanya mendapatkan dua angka pengamatan yakni jumlah permintaan yang berbeda yang disertai dengan harga dari masing-masing keadaan yang berbeda itu, maka elastisitas permintaan konsumen masih dapat dihitung dengan menggunakan rumus elastisitas busur sbb:
Ebs = ΔX/ΔH . H ̅/X ̅
Dimana :
H ̅ = Harga rata-rata dari dua pengamatan
X ̅ = Jumlah pembelian rata-rata dari dua pengamatan

Perubahan permintaan akibat perubahan harga dari salah satu jenis barang subtitusi atau komplemen dapat diukur dengan elastisitas silang. Rumus dari dua jenis elastisitas diatas dapat ditulis sbb :

Elastisitas pendapatan dari permintaan

Eps = ΔX/Δp . p/X
dimana : Δp = perubahan jumlah pendapatan
ΔX = Perubahan jumlah barang yang dibeli akibat perubahan jumlah pendapatan
P = Pendapatan semula
X = Jumlah barang yang dibeli pada pendapatan semula.

Elastisitas Silang

Eps = ΔX/ΔHy . Hy/X
Dimana : ΔHy = perubahan harga dari barang Y
ΔX = Perubahan jumlah barang X yang dibeli akibat perubahan harga barang Y
P = Harga barang Y semula
X = Jumlah barang Y yang dibeli pada harga barang X semula

Secara kualitatif dapat kita menentukan tinggi rendahnya elastisitas permintaan suatu barang dengan mengetahui terlebih dahulu hal-hal yang berpengaruh terhadap elastisitas permintaan. Setiap faktor yang mempengaruhi permintaan adalah secara simultan mempengaruhi pula besarnya elastisitas permintaan. Faktor-Faktor yang dapat mempengaruhi tinggi rendahnya elastisitas permintaan konsumen adalah:

Persentase penghasilan yang dikeluarkan untuk membeli barang
Besar kecilnya kebutuhan akan suatu barang
Daya atau kemampuan suatu barang untuk bersubtitusi
dapat tidaknya suatu barang untuk dipakai pada berbagai macam kegunaan

Posted in Uncategorized | Leave a comment

KELEMBAGAAN YANG ADA PADA MASYARAKAT DESA

Lembaga Masyarakat Desa
1. kantor Desa
Kantor desa merupakan suatu wadah dimana perangkat desa melakukan kegiatannya dan pusat dimana masyarakat desa melakukan kegiatan ataupun pengaduan yang terjadi pada desa tersebut atapun hal-hal yang menyakut administrasi desa yang di kepalai oleh kepala desa.

2. Karang Taruna
Karang Taruna merupakan wadah bagi generasi muda untuk mengekspresikan jiwa mudanya. Karang Taruna tingkat Desa Sidoharjo bernama Wira Bakti. Disamping di tingkat desa di masing-masing pedukuhan juga terdapat karang taruna tingkat dusun dengan kegiatan tergantung dari program kerja karang taruna tingkat dusun.

3. LPMD ( Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa )
Lembaga ini berkedudukan ditingkat desa yang berperan dalam rangka ikut memperlancar program-program pembangunan ditingkat desa.
Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa atau Kelurahan (LPMD/LPMK) lembaga ketahanan masyarakat desa atau Kelurahan (LKMDILKMK) atau sebutan nama lain mempunyai tugas menyusun rencana pembangunan secara partisipatif, menggerakkan swadaya gotong royong masyarakat, melaksanakan dan mengendalikan pembangunan. Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa atau Kelurahan (LPMD/LPMK) lembaga
ketahanan masyarakat desa atau kelurahan (LKMD/LKMK) atau sebutan nama lain dalam melaksanakan tugasnya mempunyai fungsi :
1. penampungan dan penyaluran aspirasi masyarakat dalam pembangunan;
2. penanaman dan pemupukan rasa persatuan dan kesatuan masyarakat dalam kerangka memperkokoh Negara Kesatuan Republik Indonesia;
3. peningkatan kualitas dan percepatan pelayanan pemerintah kepada masyarakat;
4. penyusunan rencana, pelaksanaan, pelestarian dan pengembangan hasil-hasil pembangunan secara partisipatif;
5. penumbuhkembangan dan penggerak prakarsa, partisipasi, serta swadaya gotong royong masyarakat; dan
6. penggali, pendayagunaan dan pengembangan potensi sumber daya alam serta keserasian lingkungan hidup.

4. GaPokTan ( Gabungan Kelompok Tani )
Merupakan wadah bagi kelompok tani ditingkat desa, kegiatan yang menjadi rutinitas adalah pertemuan kelompok tani tingkat desa yang dilaksanakan secara bergilir setiap bulan di masing-masing kelompok tani. Kegiatan yang dilakukan :
– Pendampingan Program aksi mandiri pangan
– Pengelolaan PUAP ( Program Usaha Agribisnis Perdesaan )

5. FPP ( Forum Peduli Pendidikan)
FPP merupakan sarana untuk ikut membahas kemajuan pendidikan di Desa. Forum ini memiliki kegiatan antara lain santunan bagi siswa kurang mampu, pemberian piagam penghargaan bagi siswa berprestasi, bantuan bagi pengajar PAUD dan TK, bantuan keuangan bagi lembaga pendidikan PAUD dan TK. Bantuan transport bagi siswa yang akan mengikuti perlombaan, dan pemberian sticker bagi warga mengenai jam belajar masyarakat.

6. POSYANDU ( Pos Pelayanan Terpadu )
Posyandu terdiri dari dua Posyandu yaitu Posyandu Balita dan Posyandu Lansia. Kegiatannya meliputi penimbangan rutin bagi balita dan lansia, pemberian makanan tambahan bagi balita dan lansia, penyuluhan kesehatan bagi balita dan lansia.

7. FORKESDES ( Forum Kesehatan Desa ) DESA SIAGA
Forum ini berkedudukan di tingkat desa, yang merupakan sarana untuk membahas masalah-masalah kesehatan ditingkat desa. Kesehatan yang dimaksud disini termasuk kesehatan lingkungan. Forum ini terbentuk pada tahun 2007 hal tersebut didasari pada banyaknya masalah-masalah kesehatan ditingkat pedukuhan yang tidak dapat Secara maksimal. Sehingga dengan adanya forum ini akan lebih mendorong terwujudnya Desa yang sehat salah satunya adalah penanganan masalah gizi buruk.

8. Tim Penggerak PKK
Tim Penggerak PKK Desa/Kelurahan mempunyai tugas membantu Pemerintah Desa/Lurah dan merupakan mitra dalam pemberdayaan dan peningkatan kesejahteraan keluarga. Tugas Tim Penggerak PKK Desa atau Kelurahan meliputi :
1. menyusun rencana kerja PKK Desa/Kelurahan, sesuai dengan basil Rakerda Kabupaten
2. melaksanakan kegiatan sesuai jadwal yang disepakati
3. menyuluh dan menggerakkan kelompok-kelompok PK dusun atau Lingkungan, Rw, Rt dan dasa wisma agar dapat mewujudkan kegiatan-kegiatan yang telah disusun dan disepakati
4. menggali, menggerakan dan mengembangkan potensi masyarakat, khususnya keluarga untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga sesuai dengan kebijaksanaan yang telah ditetapkan
5. melaksanakan kegiatan penyuluhan kepada keluarga-keluarga yang mencakup kegiatan bimbingan dan motivasi dalam upaya mencapai keluarga sejahtera
6. mengadakan pembinaan dan bimbingan mengenai pelaksanaan program kerja
7. berpartisipasi dalam pelaksanaan program instansi yang berkaitan dengan kesejahteraan keluarga di desa/kelurahan
8. membuat laporan basil kegiatan kepada Tim Penggerak PKK Kecamatan dengan tembusan kepada Ketua Dewan Penyantun Tim Penggerak PKK setempat
9. melaksanakan tertib administrasi
10. mengadakan konsultasi dengan Ketua Dewan Penyantun Tim Penggerak PKK setempat.
Tim Penggerak PKK Desa/Kelurahan dalam melaksanakan tugasnya mempunyai fungsi:
1. penyuluh, motivator dan penggerak masyarakat agar mau dan mampu melaksanakan program PKK
2. fasilitator, perencana, pelaksana, pengendali, pembina dan pembimbing gerakan pkk

9. RT dan RW
Rt dan Rw mempunyai tugas membantu Pemerintah Desa dan Lurah dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan. Rt dan Rw dalam melaksanakan tugasnya mempunyai fungsi :
1. pendataan kependudukan dan pelayanan administrasi pemerintahan lainnya;
2. pemeliharaan keamanan, ketertiban dan kerukunan hidup antar warga;
3. pembuatan gagasan dalam pelaksanaan pembangunan dengan mengembangkan aspirasi dan swadaya murni masyarakat; dan
4. penggerak swadaya gotong royong dan partisipasi masyarakat di wilayahnya.

Visi dan Misi
Visi
Terwujudnya kemandirian Desa/kelurahan menuju Masyarakat yang sejahtera.

Misi
1. Menigkatkan dan memperkuat peran dan fungsi lembaga kemasyarakat dalam perencanaan,pelaksanaan dan pengendalian pembangunan.
2. Meningkatkan partisifasi dan prakarsa swadaya Gitong royong masyarakat dalam pembangunan.
3. Meningkatkan sarana dan prasana desa atau kelurahan untuk mengakses sumber kemajuan ekonomi masyarakat.
4. Meningkatkan ekonomi masyarakat desa dan kelurahan dengan menggali potensi sumberdaya perdesaan atau kelurahan.
Tujuan
Meningkatkan kesejahteraan Masyarakat desa/kelurahan melalui peningkatan peran dan fungsi kelembagaan serta partisipasi masyarakat dengan memanfaatkan sumber daya alam dan potensi desa/kelurahan.

Sasaran
1. Meningkatakan peran kempuan masyarakat dalam pembangunan dengan tingkat swadaya masyarakat.
2. Meningkatkan keterpaduan penanganan kemiskinan dengan pengesahan kemiskinan.
3. Meningkatkan kemitraan pemerintah, swadaya msyarakat dalam memperdayakan masyarakat.
4. Meningkatkan keberdayaan masyarakat perdesaan dan mengelola kegiatan pembangunan masyarakat.
5. Menigkatkan kapasitas pemerintah ditingkat lokal dalam mengelola pembangunan perdesaan sesuai dengan poinssif-poinsuf pemerintah yang baik.
6. Meningkatkan partisifasi masyarakat pedaesaan dalam perencanaan pelaksanaan,pemantauan dan evaluasi pembangunan pedesaan.
7. Meningkatkan pengembangan usah ekonomoi desa dan penerapan teknologi tepat guna yang ramah lingkungan diperdesaan.
8. Peningkatan kualitas partisifasi masyarakat dalam pembangunan desa/kelurahan.

Strategi
1. Penguatan kelembagaan masyarakat desa/kelurahan
2. Mengikutsertakan masyarakat dalam perencanaan pelaksanaan dan pengawasan pembangunan desa/kelurahan
3. Meningkatkan kemampauan dan keterampilan masyrakat dan Aparatur Desa/kelurahan.
4. Mengembangkan perekonomian desa/kelurahan sesuai dengan potensi dalam sumber daya yang tersedia.
5. Peningkatan sarana, parsarana, fasilitas pendukung dan disiplin aparatur dilaksanakan bahwa Aparatur pemerintah serbagai pelaku pengambilan kebijaksanaa sekaligus pelaksana progaram dan kegiatan pembangunan dalam melaksanakan tugas perlu didukung sarana, prasarana dan fasilitas [pendukung lainnya agar tugas yang sedang dan akan dilaksanakan dapat berjalan lancar sesuai dengan rencana yang ditetapkan.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

PERMINTAAN, PENAWARAN DAN KESEIMBANGAN PASAR

PERMINTAAN, PENAWARAN DAN KESEIMBANGAN PASAR

Posted in Uncategorized | Leave a comment